EQUITYWORLD FUTURES – Sebagai seseorang yang berkebutuhan khusus, Deki Ardiansyah tidak menyerah pada keadaan.

Ia yang tidak bisa melihat seperti pada umumnya manusia normal, justru mencari cara untuk membantu para sesamanya.

Inovasi yang Deky telurkan adalah berupa denah dan petunjuk arah bagi para penyandang disabilitas netra.

“Saya tunanetra juga, jadi cara menyoldernya (denah) pun ditekankan ke tangan dulu,” ujar Deki kepada Kompas.com, Selasa (26/4/2016).

Pria berusia 34 tahun ini, bekerja di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Bandung. PSBN ini masih berada di bawah binaan Kementerian Sosial (Kemensos).

Ia bercerita, “Denah Bicara” dikerjakan selama total dua bulan dengan pengerjaan komponen selama satu bulan. Proses menggambar denah dikerjakan oleh Deki sendiri di komputer jinjing (laptop) miliknya.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang terlalu sulit baginya, karena Deki sudah belajar menggunakan laptop secara otodidak sejak lama.

Sementara untuk pembuatan denah, Deki dibantu oleh teman-temannya sesama pegawai negeri sipil (PNS) Kemensos.

Cara kerja denah ini adalah dengan bersuara ketika ada seorang tunanetra. Dengan perintah suara dan bentuk-bentuk bangunan, pengguna tunanetra akan lebih mudah membayangkan denah dan ruangan yang dituju.

Belum ada di dunia

Wyata Guna Bandung memiliki total 60 gedung. Hal tersebut tentu akan menyulitkan bagi tunanetra, khususnya yang baru tinggal di sana, untuk menemukan ruangan tertentu.

“Idenya mengalir begitu saja. Denah selama ini banyak berada di dalam kantor. Fungsi denah dalam kantor untuk orang awam, untuk tunanetra tidak ada,” sebut Deki.

Denah ini juga memiliki tombol-tombol yang sengaja dibentuk supaya mudah tersentuh dan bisa diraba. Tombol ini terlihat datar tapi jika ada sentuhan sedikit, akan menyuarakan nama ruangan tersebut.

Inovasi yang ditemukan oleh Deki sangat bermanfaat, khususnya bagi tunanetra. Teknologi tersebut tergolong baru di Indonesia bahkan di dunia.

Sebelumnya, Deki menuturkan, kepala panti sempat meminta bantuan penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, permintaan ini belum bisa dipenuhi.

Setelah itu, pihak panti juga meminta bantuan kepada sebuah perusahaan kontraktor. Hasilnya pun nihil. Tidak hanya di Indonesia, denah ini bahkan belum familiar di dunia.

“Ini masih baru. Di Amerika Serikat pun masih uji coba. Di mana pun, belum ada denah yang bisa berbicara,” jelas Deki.