Kebijakan BPH Migas dan Pertamina tak menjual solar subsidi di Jakarta Pusat menimbulkan kecaman dan kritik keras. Salah satunya dari pengusaha angkutan umum karena kesulitan mendapat bahan bakar. Armada mereka tidak boleh berjalan keluar dari trayek yang telah ditentukan yaitu di Jakarta Pusat saja.

Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng melihat hal itu karena pengusaha angkutan umum belum mempunyai manajemen yang bagus. Sehingga mereka kesulitan mendapatkan solar subsidi di luar Jakarta Pusat.

“Ada keluhan khusus Jakarta Pusat yaitu dari perusahaan angkutan individu. Kalau angkutan bersifat baik manajemennya mengatur ada pool BBM nya. Ternyata jakarta pusat ada yang perusahaan individu,” ucap Andy ketika ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (8/8).

Berangkat dari persoalan itu, Andy kembali akan membuka penjualan solar di beberapa SPBU Jakarta Pusat. Namun khusus metro mini saja. SPBU yang akan menjual solar khusus metro mini tidak banyak hanya 1 atau 2 SPBU saja.

“Transport publik ini kan mereka berhak dan kita akan atur bersama Pertamina agar metro mini dimungkinkan mengisi solar subsidi dan tidak melanggar trayek. Mereka ada trayek dan mereka tidak boleh keluar,” tegasnya.

Andy mencontohkan salah satu trayek metro mini yang kesulitan mendapat solar subsidi adalah metro mini dengan tujuan Senen – Pangkalan Asem yang kedua lokasi tersebut berada di Jakarta Pusat. Kemudian angkutan dengan trayek Senen – Manggarai.

“Itu masih satu Jakarta Pusat. Ngisinya mereka ke Timur engga boleh. Nanti ada kebijakan SPBU ditunjuk melayani khusus untuk itu,” tambahnya.

Dari data yang dimiliki Andy, satu metro mini bisa menghabiskan 100 liter solar per hari. Solar subsidi akan kembali disediakan di Jakarta Pusat khusus metro mini.