EQUITYWORLD FUTURES – Ratusan tahun lalu, daerah pesisir utara Jakarta pernah menjadi saksi bisu kedatangan para penjelajah laut dunia handal. Mereka datang berbondong-bondong dengan beragam tujuan.

Mulai dari syiar agama, berdagang hingga penjajahan atau ekspansi wilayah kekuasaan. Kisah para pelaut itu dapat dilihat lewat diorama yang dipamerkan Museum Bahari.

“Kami berusaha membuat tata pamer yang layak dan bagus, supaya diminati pengunjung,” kata Kepala Museum Kebaharian, Sunarto, kepada Kompas.com di Museum Bahari, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (18/3/2015).

Sekarang ini, kata Sunarto, pihak museum melakukan pembenahan dari segi tata letak. Pembenahan itu dibarengi dengan penarikan minat pengunjung sehingga nantinya lebih informatif.

“Tujuan utama museum kan menarik pengunjung. Nanti pengunjung bisa dapat informasi dan lebih teredukasi,” katanya.

Pembenahan lainnya juga terlihat di Menara Syah Bandar. Titik nol dari Kota Jakarta ini sudah terlihat molek dan anggun dengan polesan cat barunya.

Museum itu harus menarik dipandang mata. Kesannya kan selama ini kalau berkunjung ke museum itu tua. Nah kita poles tuh fisik bangunannya, kemarin Menara Syah Bandar dicat, sebelumya kan pada ngelotok catnya,” kata Sunarto.

Nantinya Menara Syah Bandar akan ditambah dengan penataan cahaya. Tepat di bawah menara akan dipasang lampu sorot yang akan menyoroti langsung ke menara.

“Nanti kalau malam akan tambah terlihat bagus dengan sorotan lampu warna merah atau biru,” kata Sunarto.

Jumlah pengunjung per hari menurut Kasubag Tata Usaha Museum Kebaharian, Wulandari, tak bisa dipastikan. Namun, jumlah pengunjung pada hari libur akan lebi banyak.

“Kalau hari biasa kurang dari 50, tetapi kalau libur ya bisa sampai 200-an. Pegunjung banyak biasanya datang pakai bus,” kata Wulandari.

Penambahan koleksi angin segar datang dari Atase Kebudayaan Amerika Serikat di Indonesia. Rencananya, mereka akan menitipkan replika kapal yang karam di Selat Sunda pada tahun 1942.

“Guna memperingati kejadian tersebut, Amerika akan membuat replika kapal yang panjangnya kurang lebih dua meter. Nah rencannya akan dipamerkan setelah lebaran, bulan September-Oktober,” kata Sunarto.

Selain itu, nantinya replika kapal itu akan dipamerkan berbarengan dengan pihak Inggris dan Australia yang membuat informasi mengenai karamnya kapal mereka. Keduanya hanya sekadar membuat deskripsi saja.

Atase Kebudayaan Amerika Serikat tidak menghibahkan. Hanya menitipkan dengan jangka waktu lama, yakni 10 sampai 20 tahun. Museum Bahari untuk sementara belum bisa memastikan untuk melakukan penambahan koleksi.

Pengelola masih memperhitungkan anggaran untuk pembelian beberapa koleksi. “Rencananya tahun ini ada. Cuma karena terkendala anggaran, ya belum maksimal,” kata Wulandari.

Kendala tersebut, kata Wulandari, karena anggaran yang belun maksimal. Anggaran itu terbagi ke tiga museum, yakni Museum Bahari, Rumah si Pitung dan Museum Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.

Koleksi museum bahari sampai saat ini berjumlah 1120 yang terdiri atas replika kapal, kapal asli, koleksi biota laut, alat bantu navigas, lukisan bahari serta barang muatan kapal tenggelam.