Warga muslim Sri Lanka kemarin menutup toko-toko mereka di wilayah ibu kota untuk memprotes serangan terbaru dilancarkan kelompok garis keras Buddha dan menuntut agar pemerintah menghukum mereka yang bertanggung jawab.

“Lebih dari seribu toko ditutup selama beberapa hari di Kolombo,” kata Ibrahim Nisthar Miflal, presiden dari Organisasi Hak Asasi Muslim, yang menyerukan protes itu, seperti dilansir situs the Huffington Post, Jumat (20/6).

Dia mengatakan mereka tidak puas dengan respon dari pemerintah atas kekerasan menimpa warga muslim, di mana tiga orang tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka.

Kelompok garis keras Buddha melemparkan bom bensin dan menjarah rumah serta beberapa tempat usaha warga muslim pada Ahad kemarin di beberapa kota di barat daya Sri Lanka. Serangan itu dipimpin oleh massa dari Bodu Bala Sena (BBS), atau Kekuatan Pasukan Buddha, yang mencemooh minoritas warga muslim di negara itu.

Presiden Mahinda Rajapaksa dua hari lalu mengunjungi daerah yang terkena dan berjanji melancarkan penyelidikan yang tidak memihak serta penangkapan terhadap para pelaku terlepas dari perbedaan ras atau agama.

Dia juga meminta para pejabat untuk memberikan kompensasi kepada keluarga korban dan properti yang rusak.

Seorang juru bicara polisi tidak menjawab panggilan telepon untuk dimintai komentar terkait penyelidikan atas serangan itu.

Bodu Bala Sena telah mendapatkan pengikut dan diyakini menikmati dukungan dari negara. Gotabhaya Rajapaksa, menteri pertahanan yang dianggap kuat di Sri Lanka dan saudara presiden, pernah membuat penampilan publik yang mendukung tindakan kelompok itu.

Seorang biksu Buddha moderat yang merupakan kritikus vokal dari Bodu Bala Sena (BBS) kemarin ditemukan diserang dan dalam keadaan tak sadarkan diri di dekat Kolombo.

Polisi mengatakan biksu Wataraka Vijitha mengalami beberapa cedera, tapi kondisinya tidak kritis. Dia menambahkan bahwa petugas sedang menyelidiki insiden itu. Kini Wataraka sedang dirawat di rumah sakit utama di Kolombo.

Sementara itu, Dewan Muslim Sri Lanka, sebuah organisasi payung dari kelompok muslim di negara itu, menyerukan Rajapaksa kemarin untuk menyelidiki tindakan kelompok-kelompok ekstremis dan melarang orang-orang yang telah melakukan kampanye kebencian, intimidasi dan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas.

Kekerasan pada Ahad kemarin meletus setelah sebuah unjuk rasa dilakukan Bodu Bala Sena (BBS). Dari klip video menunjukkan sekretaris jenderal kelompok itu, Biksu Galagoda Atte Gnanasara, mengatakan pada kerumunan orang bahwa toko-toko milik muslim berada dalam bahaya.

Gnanasara kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa umat Buddha marah atas dugaan serangan terhadap pengemudi seorang biksu Buddha.

Sri Lanka masih sangat terluka akibat perang saudara 1983-2009 antara mayoritas Buddha Sinhala dan pemberontak dari etnis Tamil, yang sebagian besar Hindu. Namun kekerasan antara Buddha-muslim relatif jarang.

PBB, Uni Eropa dan Amerika Serikat telah menyatakan keprihatinan terhadap kekerasan dan mendesak pemerintah untuk melindungi agama minoritas.