EQUITYWORLD FUTURES – Keberadaan kopi asing yang beredar di dataran tinggi Gayo meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, Aceh, mulai meresahkan masyarakat di dataran tinggi tersebut.

Nama kopi Gayo yang semakin mendunia dan terus mendapatkan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga kopi dari daerah lain di Indonesia menjadi alasan sejumlah oknum pengusaha dari luar Aceh memasok kopi dari daerah lain ke wilayah tersebut.

“Dari uji cita rasa yang pernah kita lakukan, kopi yang bisa masuk kemari memang sudah bermasalah, kalau enggak bermasalah, enggak akan masuk kemari,” kata Mahdi, Ketua Gayo Cupper Team, sebuah komunitas penguji cita rasa kopi Gayo, Minggu (13/12/2015).

“Untuk sesi ini pun, kita uji cita rasa, memang barangnya bermasalah, kalau enggak bermasalah kopi itu enggak masuk kemari, jadi rata-rata sudah pasti premier defects,” kata Mahdi.

Dengan demikian, lanjut Mahdi, kopi asing tersebut tergolong kopi yang ditolak oleh pembeli luar negeri.

“Dari informan kita dapatkan kabar bahwa sebagian dari kopi itu memang kopi yang sudah di-reject oleh buyer luar negeri,” ungkap pencicip cita rasa kopi bersertifikat tersebut.

Di samping itu, Mahdi mengatakan, secara umum kopi specialty atau kopi dengan pengolahan khusus dari seluruh dunia, termasuk Gayo dan jenis kopi lain di Indonesia, secara umum tidak bermasalah, namun tidak halnya dengan harga kopi di pasar komersial.

Menurut Mahdi, kebutuhan kopi di pasar komersial memiliki kuota yang lebih besar dibandingkan kopi Arabika specialty.

“Enggak semua kuota kopi Arabika kita bisa dipasarkan sebagai kopi specialty karena kuota kopi komersial itu mutlak cukup besar, di sinilah kartel itu bermain,” ungkap dia.

“Angka konsumsi kopi dunia terus beranjak naik setiap tahun, sementara jumlah pasokan semakin rendah, permintaan kopi arabika Indonesia itu cukup besar, termasuk Kopi Mandailing Sumatera, proses blended sudah biasa terjadi di Sumatera untuk memenuhi kuota itu dan buyer sangat mengerti itu, mungkin tidak disampaikan,” pungkas Mahdi.

Dia mengaku kecewa karena pemerintah Aceh Tengah maupun Bener Meriah belum memiliki regulasi untuk menghentikan upaya pencemaran nama baik kopi Gayo yang telah mendunia tersebut.

“Hari ini buyer sudah terlanjur percaya banget sama kita, kualitas kopi Gayo diakui, harga kopi kita di atas rata-rata mereka kasih. Jangan sampai itu rusak, jangka panjang permintaan kopi kita bisa menurun,” tambah Mahdi.

Karena pemerintah tidak punya aturan jelas, tambah Mahdi, maka kopi luar dengan mudah bisa masuk ke Gayo. Namun menurut dia, akan beda cerita kalau kopi asing tersebut punya kualitas bagus.

“Publik baru ternganga saat terjadi penangkapan 27 ton kopi asal luar daerah, tetapi sebelum itu juga sudah terjadi, seperti tahun 2012, tetapi masih dalam bentuk gabah yang disuplai kemari dan baru tercium kembali baru-baru ini, padahal itu masih akan beredar di sini,” papar Mahdi yang juga panelis kopi ini.

“Keresahan saya kian memuncak, saat saya melihat keberadaan kopi itu tercecer satu dua goni beberapa supplier kecil di pinggiran kota, kecamatan sampai kampung-kampung, target mereka adalah dioplos dengan kopi lokal yang baru dan kemudian dijual,” kata dia.

Hal itu dilakukan untuk mengurangi kuantitas yang cukup besar karena banyak kopi asing yang menumpuk di suatu tempat. Dia menduga, hal ini sebagai upaya mengelabui supaya tidak terdeteksi publik agar kopi itu tidak terlalu tersorot jika terjadi pengoplosan yang dilakukan oleh pedagang kecil.

“Hari ini penyebarannya itu kalau di Takengon, Aceh Tengah, itu terjadi di sekitar Kecamatan Bies, Silihnara, Pegasing hingga Kecamatan Atu Lintang, sedangkan Bener Meriah itu sangat marak terjadi di Kecamatan Bukit dan Kecamatan Bandar,” ucap Mahdi.