EQUITYWORLD FUTURES – Tumpukan ratusan dus berisi suku cadang berdesakan hampir di setiap sudut ruangan. Seorang lelaki 30 tahunan sedang asyik menghaluskan tuas rem menggunakan mesin gerinda listrik. Dari sini ribuan potong suku cadang sepeda motor palsu dikemas mirip orisinal. Sekilas asli namun barang-barang sepeda motor itu imitasi.

Di rumah berlantai tiga itu, kondisinya tertutup rapat, berada di wilayah padat penduduk, Jelambar, Jakarta Barat. Gudang itu menyimpan barang-barang belum dan setengah jadi. Suku cadang sepeda motor, mulai kanvas rem, kopling, roler, pelatuk, sabuk, piringan cakram, dan gir dibuat menyerupai asli. Selain itu mereka juga memproduksi jeroan imitasi sepeda motor.

“Mesinnya beda, ada mesin tekan, mesin cetak hologram, ada mesin pembungkusan,” kata karyawan pabrik suku cadang palsu, Mamat, nama samaran, kepada merdeka.com Kamis pekan lalu.

Seperti di lantai dasar, lantai dua rumah toko itu berisi barang-barang suku cadang dari berbagai jenis merek sepeda motor siap dikemas dan dipasok kepada pemesan. Setiap lantai di ruko itu punya tugas dan bagiannya masing-masing.

Karyawannya tidak lebih dari lima orang dan rata-rata masih di bawah 25 tahun. Mereka bekerja tanpa kontrak kerja. Menurut Mamat, lelaki tamatan sekolah menengah pertama, sehari biasa mengemas sampai belasan ton.

Lantai paling atas merupakan bagian pengemasan suku cadang impor dari Cina. Barang-barang itu dibuat semirip aslinya. Terdapat juga mesin hologram untuk ditempel pada setiap kemasan. “Di lantai ketiga, cuma orang kepercayaannya, istilahnya orang lama, saja bisa masuk,” ujar Mamat. Dia mengaku sudah kenal dekat majikannya sehingga bisa naik turun ke ruangan itu.

Para pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Semua mempunyai target pengerjaan dalam sehari. Setelah membersihkan dan merapihkan suku cadang palsu, onderdil itu lantas dimasukkan ke dalam kardus berlogo minyak curah dan dipindahkan ke lantai paling atas. Setiap hari mereka bekerja tujuh jam. Sepekan jatah liburnya cuma sehari.

“Pesanan selalu banyak, habis makan siang kita langsung disuruh kerja lagi,” tutur Mamat. Dengan jumlah pekerja terbatas, mereka harus bergantian beristirahat. “Produksi tidak boleh berhenti.”

Pabrikan rumah gelap itu biasa mencetak suku cadang palsu dari berbagai merek sepeda motor, termasuk Yamaha dan Honda, dua merek sepeda motor paling laris di pasaran.

Untuk menaikan harga, mereka mengemas dengan bungkusan asli dan kemudian diedarkan sesuai pemesan. Kebanyakan pesanan datang dari toko onderdil motor bukan resmi. Namun ada juga bengkel resmi menggunakan barang palsu suku cadang sepeda motor ini. “Ada beberapa bengkel resmi meminta kiriman barang ke kita,” kata Mamat.