EQUITYWORLD FUTURES – Umumnya manusia menginginkan hidup ini senantiasa senang, bahagia, dan penuh dengan kemudahan.

Bagaimana dengan Anda?

Kenyataannya tidak selalu demikian, masih saja kita rasakan berbagai macam tekanan hidup yang silih berganti  seakan tiada henti menyakiti hati.

Lantas benarkah dibalik setiap tekanan, pada dasarnya tersimpan kekuatan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuk kita sejenak simak fakta berikut.

Dalam salah satu Jurnal Sains NASA, yaitu badan antariksa AS mewajibkan seluruh astronot untuk melakukan berbagai latihan beban seperti, sepeda statis, jogging track buatan dan lain sebagainya.

Tujuan dari latihan beban ini adalah untuk mengganti beban gaya daya tarik bumi atau gaya gravitasi bumi. Seperti kita ketahui, di angkasa luar tidak ada gaya gravitasi bumi atau gravitasi 0, pertanyaannya adalah mengapa harus latihan beban?

Bukankah seharusnya kondisi tanpa beban ini, kita bisa melayang-layang ke sana kemari tanpa harus repot berjalan mengeluarkan tenaga dan melelahkan?

Kondisi tersebut di atas, yaitu situasi tanpa beban daya tarik gravitasi bumi, bisa kita umpamakan sebagai kondisi hidup kita di dunia yang selalu dipenuhi dengan kesenangan, kemudahan dan tanpa tekanan atau kesulitan. Hal ini adalah dambaan hampir semua manusia, termasuk saya dan barangkali Anda.

Tubuh Memerlukan Beban
Dari Jurnal ilmiah tersebut, disimpulkan bahwa berdasarkan penelitian yang sangat ilmiah yang dilakukan oleh NASA, ditemukan bukti jika tubuh manusia didalam kondisi gravitasi 0 atau kondisi tanpa “beban” maka darah secara otomatis merespon kondisi tersebut dengan mengambil Kalsium dari tulang beberapa kali lebih cepat dan lebih banyak jika dibandingkan saat manusia mendapat “beban” dari gaya gravitasi bumi.

Sehingga seminggu saja manusia tinggal dalam kondisi gravitasi 0 dipastikan mengalami osteoporosis atau pengeroposan tulang akibat kalsium di tulang berkurang secara drastis.

Dari fakta tersebut membuktikan bahwa tubuh kasar atau fisik kita dalam hal ini adalah tulang membutuhkan “beban” atau tekanan untuk kuat menunjang badan tegak berdiri. Begitu juga dengan salah satu organ tubuh yang berperan menggerakkan tubuh yaitu otot kita, mereka merindukan latihan “beban” agar kuat, elastis, kencang, dan sehat membentuk tubuh dan mampu menggerakkan organ-organ penting.

Mental Memerlukan Tantangan
Bagaimana dengan mental dan jiwa kita? Pelaut yang tangguh dan berpengalaman sangat yakin dan percaya betapa ombak yang dahsyat adalah sahabat sekaligus guru yang baik untuk kemuliaan mereka, karena didalam darah mereka mengalir pepatah “pelaut yang tangguh selalu dilahirkan oleh ombak dan badai yang dahsyat.”

Berbagai macam penelitian empiris membuktikan mereka yang dibesarkan dalam kondisi serba sulit  dan menantang adalah pribadi-pribadi yang kuat, unggul dan tangguh. Kita bisa melihat bukti dan faktanya di pelataran bisnis, politik, olahraga professional, hingga di kehidupan sehari-hari.

Demikian juga dengan mental kita yang memerlukan beban sebagai latihan untuk penguatan. Beban dalam konteks ini adalah masalah atau tantangan sebagai nutrisi jiwa agar kita tumbuh kuat, tangguh, bijaksana dan selalu siap menghadapi tantangan demi tantangan.

Karena pada dasarnya saya dan anda tumbuh berkembang bersama dengan masalah yang datang silih berganti, dan tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, jika kita sudah berupaya dengan segala kemampuan dan daya.

Namun jika masalah dan tekanan itu tetap saja muncul itu pertanda Sang Maha Kasih sedang mendidik dan menguatkan jiwa dan mental kita untuk menghadapi tantangan kehidupan pada edisi berikutnya.

Konsep pada setiap Tekanan selalu ada Kekuatan tidak berarti kita dianjurkan untuk mencari masalah, tentu bukan itu ide yang ditawarkan, namun kita tetap berikhtiar untuk melakukan yang terbaik guna menghindari atau meminimalkan masalah atau tantangan.

Just in case masalah terjadi tanpa kita harapkan, maka itulah maknanya setiap Tekanan selalu mengandung Kekuatan berfungsi sebagai salah satu bagian dari episode kehidupan yang dirancang untuk mendidik kita menjalani kehidupan ini.

Dengan jaminan bahwa Sang Maha Kuasa tidak akan pernah memberikan masalah di atas kemampuan kita, maka bersyukurlah anda sedang dalam pelatihan yang di bimbing langsung oleh Tuhan Sang Pengasih.

Otak Membutuhkan Pemicu
Masih dari salah satu Jurnal Sains terkemuka, konfirmasi oleh beberapa ahli saraf, otak manusia diciptakan dan didesain dalam kondisi pasif kreatif dengan potensi kreatif aktif. Artinya otak akan bekerja jika ada pemicu sehingga potensi tersebut menjadi aktif.

Otak yang aktif ditandai dengan banyaknya sambungan loncatan listrik diantara sel-sel saraf otak, sambungan loncatan listrik ini dapat diamamti ketika otak di Scan dengan instrument CT Scan yang canggih.

Pertanyaannya adalah apakah yang memicu otak menjadi aktif dan kreatif?

Dan pemicu timbulnya loncatan listrik tersebut adalah masalah, tantangan dan tekanan, atau dengan kata lain pemicu kreativitas otak adalah beban pikiran yang terdiri dari masalah, tantangan dan tekanan yang kita hadapi.

Coba kita amati berbagai teknologi peradaban manusia sebagian besar ditemukan saat manusia menghadapi cobaan, krisis, dan masalah yang mengancam.

Adanya penemuan kapak dan tombak di jaman purba membuktikan akibat manusia purba perlu makan maka mereka menciptakan alat untuk berburu binatang untuk dimakan dan bertahan hidup.

Bersahabat dengan masalah berarti kita memperkenankan tubuh, jiwa dan otak kita mendapatkan asupan nutrisi untuk terus berusaha menjadi manusia paripurna meraih kesejahteraan dan kebahagiaan hakiki.

Sehingga benar kiranya bahwa, pada setiap tekanan yang kita terima, tersimpan kekuatan yang prima.

Selamat berkarir dan terus hadapi tekanan, sehingga kita terus dipenuhi kekuatan!