Bagi sebagian pihak, mendiang Presiden Soeharto adalah penguasa diktator. Namun tidak buat Fuad Bawazier pernah menjabat menteri keuangan menjelang presiden kedua itu lengser.

Dia yakin benar Soeharto sangat memperhatikan kondisi rakyat kecil. Hanya saja, Soeharto banyak ditipu oleh ekonom-ekonom mafia Barkeley dipimpin Widjojo Nitisastro. “Dia pengen barang di pasar selalu ada, harganya murah, dan terjangkau,” kata Bawazier saat ditemui Selasa lalu di rumahnya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Berikut penuturan Fuad Bawazier kepada Faisal Assegaf dari merdeka.com.

Seberapa besar kepedulian Soeharto terhadap perekonomian Indonesia?

Pak Harto itu tidak begitu peduli dengan nama baik. Saya tahu persis. Dia nggak gila gelar semacam doktor honoris causa. Dia nggak mau.

Zaman Soeharto itu ada dualisme ekonomi. Pertama, ekonomi ala Soeharto yakni ekonomi pertanian, kerakyatan, atau boleh disebut ekonomi pedesaan. Makanya bisa swasembada
beras. Dia mengenalkan SD Inpres, puskesmas, bibit murah, jalan, pupuk murah, KUT, dan lain-lain. Pokoknya dia mengurusi urusannya orang-orang kecil.

Satunya lagi adalah Widjojonomic, konsep ekonomi ala Widjojo Nitisastro, mafia Barkeley. Dia memperkenalkan penanaman modal asing, kredit luar negeri, pasar modal, pasar uang, perbankan, dan macam-macam. Boleh dibilang ekonomi makro, irasional, ekonomi utang dan mengakomodasi kepentingan luar negeri.

Dua-duanya berjalan berdampingan. Pak Harto nggak mengganggu Widjojo dan Wdjojo juga nggak bernyali usik Soeharto. Pak Harto sangat memperhatikan rakyat kecil. Tapi ketika Pak Harto lengser, ekonomi ala Pak harto lama-lama terhenti karena tidak ada penerus.

Kalau Widjojo punya tongkat estafet. Ada Boediono, Sri Mulyani, Chatib Basri dan sebagainya.Sehingga yang terjadi utang terus menumpuk. Nggak ada apa-apanya utang ditinggalkan Soeharto dibanding utang zaman sekarang.

Tapi semasa rezim Soeharto kan juga ada utang luar negeri?

Utang itu lebih banyak dipaksakan oleh kelompok Wdjojo untuk memenuhi keinginan Bank Dunia, ADB, dan sebagainya. Kalau klien-kliennya Bank Dunia habis, lama-lama Bank Dunia
bisa dibubarkan. Ini bukan cuma masalah utang, tapi Bank Dunia bisa mempengaruhi kebijakan negara peminjam.

Karena itu Pak Harto selalu menekankan utang luar neger itu hanya sementara dan pelengkap. Karena itu jumlahnya kecil dan bisa ditangani. Bahkan, yang urus saja di Departemen Keuangan cuma direktorat. Mulai Sri Mulyani dinaikkan menjadi direktorat jenderal. Sekarang kerjanya jual SUN, syrat berharga negara. Departemen Keuangan kini sudah kayak lembaga pembiayaan aja.

Dulu itu utang luar negeri terbatas karena tekanan Bank Dunia, ADB, dan sebagainya lewat Widjojo sebagai kaki tangan mereka. mereka selalu beralasan pinjaman itu sebagai simbol kepercayaan luar negeri kepada Indonesia. Pemanfaatannya saya tahu itu gagal, proyek-proyeknya kebanyakan bodong.

Apa prinsip Soeharto soal pinjaman luar negeri?

Pak Harto itu selalu minta utang luar negeri itu harus dibatasi dan ini cuma pelengkap serta sementara. Harus dikombinasikan dengan utang program.

Berapa nilainya per tahun?

Paling setahun itu US$ 4 miliar, sebagian dipakai untuk membayar utang lagi. Pak Harto itu sebetulnya sudah tahu proyek-proyek hasil utang itu banyak gagal tapi kenapa utang terus dipaksakan.

Pak harto itu sebenarnya nggak sreg dengan Widjojo. Cuma untuk menjaga keseimbangan kabinet.

Apa mimpi Soeharto soal ekonomi Indonesia?

Dia pengen barang di pasar selalu ada, harganya murah, dan terjangkau. Itu selalu ada di otak Pak Harto. Dia ingin orang kecil itu, guru, petani, nelayan, dan sebagainya, bisa makan, sekolah.

Karena Pak Harto itu punya prinsip gampang saja. kalau rakyat itu kenyang, perutnya hangat. Pikiran jadi adem, dingin, tenang. Kalau orang lapar, perutnya dingin, otaknya panas.

Kalau tanya orang dulu apa enaknya zaman Seharto, pasti mereka jawabnya barang-barang murah dan gampang dijangkau. Sekarang ini apa-apa mahal. Gap antara kaya dan miskin kini sangat lebar.

Prinsip dan pemikiran ekonomi Soeharto sangat dipengaruhi oleh siapa?

Dari latar belakangnya sendiri. Dia orang miskin, pedesaan, keluarga petani. Dia selalu memikirkan soal peningkatan kehidupan rakyat kecil. Dia nggak pikir muluk-muluk.

Lalu kenapa Soeharto dianggap korup dan tidak pro-rakyat kecil?

Dia itu tertipu atau korban dari ajaran keliru mafia Barkeley. Pak Harto sebenarnya mulai menyadari tapi berkelitnya agak susah.

Misalnya konsep trickle down effect dilontarkan Pak Widjojo. Ekonomi nasional kita besarkan dulu baru diikuti dengan yang lain. Untuk besar harus ada modal asing, BUMN, atau konglomerat.

Pak Harto agak ragu sebenarnya. Di situlah mulai masuk ada kroni, keluarga. Lama-lama Pak Harto sadar kok nggak menetes ke rakyat kecil. Makanya Pak harto pernah mengumpulkan para konglomerat di Tapos akhir 1980-an.

Dia bilang, “Kamu udah pada kaya semuanya. Tapi kok nggak menetes ke rakyat kecil? Coba bagikan kekayaanmu masing-masing 25 persen kepada rakyat.” Pak Harto pernah instruksikan seperti itu tapi pelaksanaannya susah.

Siapa saja konglomerat dikumpulkan Pak Harto itu?

Seperti Om Liem (Sudona Salim), dan Eka Tjipta Widjaja. Banyak, saya lupa.

Pak Harto juga merasa utang-utang selama ini nggak benar. Akhirnya Pak Harto minta IGGI dibubarkan sekitar 1990 atau 1991. Tapi dengan cepat Widjojo dan kelompoknya mengorganisir lembagai baru dan diganti nama menjadi CGI.

Itu akal-akalan saja karena itu cantelan mafia Barkeley suapaya mereka tetap eksis.Koreksi-koreksi Pahk harto itu banyak dijegal.

Kenapa dia tidak memotong mafia Barkeley itu?

Karena ekonom yang ada adalah murid-murid dan kaki tangan Wdjojo.

Apakah Soeharto pernah mengeluh kepada Anda?

Setelah ada krisis di Thailand pada 1997, Pak Harto mulai khawatir. Pak Widjojo mulai mengumpulkan ekonom dan menteri-menteri kroninya dan mengatakan kepada Pak harto, “Pak jangan kuatir, Indonesia tidak akan terkena badai krisis karena fundamental ekonomi kita kuat.”

Padahal fundamental ekonomi kita sudah rontok. Nggak lama kemudian kita terkena krisis. Di situ Pak harto mulai omong, “Memang benar dugaan saya selama ini, orang-orang Widjojo memang tidak benar.”

Cuma Pak Harto tidak bisa apa-nggak punya alternatif. Pak harto kemudian memanggil saya. Di situ saya kenal secara pribadi dengan Soeharto.

Dia bilang, “Kamu katanya punya pandangan lain soal ekonomi Indonesia. Apa itu?”

“Oh ini nggak benar semuanya,” kata saya.

“Bagaimana nggak benarnya?”

Saya bilang, “Selama 30 tahun Bapak memerintah tidak pernah anggaran kita itu berimbang. Tapi Bapak di mana-mana berpidato atas saran ekonom-ekonom mafia Barkeley itu, kita menjalankan anggaran berimbang.

Padahal kita tidak pernah berimbang, kita defisit. lebih besar pengeluaran dari pendapatan. Tangan kita di bawah, ada orang kucurkan pinjaman. Bapak itu tertipu oleh Widjojo cs.

Satu kebohongan ini diikuti kebohongan-kebohongan lain. Misalnya dalam APBN itu tidak ada disebutkan anggaran utang. Utang diganti dengan nama penerimaan pembangunan. Negara kreditor dibilang donor. Utang disebut simbol kepercayaan.

Sehabis itu tiap djua tiga hari dipanggil menghadap pak Harto. geger itu orang-orang mafia Barkeley. Saya mesti menjelaskan kepada pak harto sudah 30 tahun dicuci otaknya oleh orang-orang Widjojo.

Sampai akhirnya Pak harto mempertemukan saya dengan Widjojo di Cendana. Kami berdua berdebat soal ekonomi Indonesia dan Pak Harto dengerin.

Kapan itu?

Kira-kira awal 1998. Waktu krisis Pak harto membentuk tim semcam kopkamtib dengan Pak harto sebagai ketuanya dan Widjojo sebagai sekretaris jenderal. Saya wakil sekretaris jenderal.

Lalu bagaimana reaksi Pak Harto atas debat Anda dengan Widjojo?

Saya yakin betul Pak Widjojo kesulitan waktu berdebat dengan saya. Pak harto diam saja, tapi saya yakin Pak Harto sadar Widjojo telah membohongi dirinya selama ini. Mafia Barkeley kemudian mulai gelisah.