EQUITYWORLD FUTURES – CUACA panas menyengat ketika menapakkan kaki di Pantai Tebing, Dusun Luk, Desa Sambi Bangkol, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Pepohonan hanya tumbuh di atas tebing berketinggian 20 meter-25 meter itu. Tempat berteduh sekitar 20 meter utara tebing.

Selebihnya hanya hamparan pasir hitam berhadapan dengan perairan Selat Lombok. Sesekali tampak dari kejauhan satu-dua kapal berlayar di selat itu.

Semilir angin laut yang mendorong ombak dari dan ke pesisir tidak mampu menurunkan suhu udara pantai yang dikenal warga sebagai Pantai Luk.

Namun, para pengunjung, mulai dari anak- anak hingga orang dewasa, tidak mengindahkan suasana panas itu. Mereka girang bermain kecipak air, saling lempar pasir pantai, pasang aksi berfoto, dan berswafoto di bentangan tebing sekitar 50 meter dari utara ke selatan.

Belum ada penginapan di sana. Karena itu, pengunjung umumnya hanya singgah, mengambil gambar diri berlatar belakang tebing itu.

”Tidak tahu persis, Pak, mengapa pantai ini disebut Pantai Tebing. Mungkin saja karena fisiknya berbentuk tebing sehingga dinamakan seperti itu,” ujar Dama, pengunjung asal Mataram, ibu kota NTB, sambil terus mengamati tebing itu.

Menuju tempat berjarak sekitar 42 kilometer utara Mataram itu, perjalanan bisa ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau angkutan umum. Tarif angkutan umum dari Terminal Mandalika di Mataram ke pantai itu sekitar Rp 25.000 per orang.

Perjalanan biasanya melalui kawasan Hutan Pusuk, tempat kawanan monyet berkumpul di pinggir jalan, menunggu pengguna jalan memberi makanan.

Jika setengah perjalanan mau menikmati panorama alam pantai, pengunjung bisa menelusuri jalan kawasan obyek wisata Senggigi, Lombok Barat, sekalian melempar pandangan ke Gili Trawangan, Meno, dan Air yang tampak dari kejauhan. Tiga gili (pulau kecil) itu merupakan ”desa dunia” di tengah laut karena lebih banyak wisatawan bule ketimbang penduduk lokal.

Pantai Tebing berada di jalan utama yang menghubungkan Desa Bayan dan Mataram. Dari jalan raya itu ada jalan tanah sepanjang 200 meter sebagai pintu masuk, cukup untuk dua mobil berpapasan. Sebelum tiba di pantai, para pengujung disediakan tempat parkir mobil dan sepeda motor.

Tebing pasir itu adalah ”monumen” letusan dahsyat Gunung Rinjani Tua atau Samalas tahun 1257. Letusan Samalas diungkap dalam kajian ilmiah jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences terbitan akhir September 2013 dalam artikel ”Source of the Great AD 1257 Mystery Eruption Unveiled, Samalas Volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia” (Tempo, 17/11/2013).

Artikel itu adalah hasil penelitian 15 peneliti gunung api dunia (tiga dari Indonesia) dengan ketua tim Franck Lavigne dari Departemen Geografi Universitas Paris 1 Pantheon-Sorbonne, Perancis.

Letusan Samalas dinilai terbesar pada periode 7.000 tahun terakhir. Muntahan materialnya lebih dari 40 kilometer kubik, sedangkan letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa tahun 1815 melontarkan 33 kilometer kubik material dan Krakatau (meletus pada 1883) sebanyak 12,3 kilometer kubik.

Menurut Heryadi Rachmat, pengamat gunung api dari Museum Geologi Bandung, tebing pasir itu adalah singkapan endapan piroklastik letusan Gunung Samalas, berketebalan 50 meter, berwarna abu-abu cerah, dan membentuk struktur pelapisan dengan komponen, antara lain, batu apung. Singkapan itu terbentuk dari endapan awan panas, aliran piroklastik yang masuk ke laut.

Awan panas yang ”bertemu” dengan dinginnya air laut menimbulkan letusan sekunder, lalu terlontar ke daratan dan endapannya diduga membentuk bukit di Pantai Tebing itu.

Tekstur dinding bukit itu berlekuk-lekuk, seperti hiasan pahatan ornamen yang indah, laksana ukiran ”tangan” kekuasaan Sang Khalik di galeri alam terbuka. Menakjubkan. Jika ada waktu, singgahlah menyaksikan jejak-jejak letusan Gunung Samalas di Pantai Tebing….