Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB ketika Deden (bukan nama sebenarnya) menata dagangannya, baju-baju impor bekas pakai, di bahu Jalan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2014). Deden adalah mantan pedagang di Blok III Pasar Senen yang terbakar pada April lalu.

Kebakaran yang terjadi pada dini hari itu meluluhlantakkan bangunan beserta semua dagangan, termasuk milik Deden. Sejak itu, Deden memilih berjualan di bahu jalan sebagai pedagang kaki lima daripada berdagang di tempat relokasi yang disediakan PD Pasar Jaya, yaitu lantai I dan II Blok V Pasar Senen.

“Katanya penampungan tapi uang sewanya Rp 3 juta per bulan.  Mana ada yang namanya penampungan bayar,” kata Deden sambil memajang baju-baju dagangannya di gantungan baju.

Meskipun dulu, ketika menempati Blok III, Deden mengaku harus membayar sewa Rp 5 juta per bulan, ia tetap enggan membayar sewa tempat relokasi karena, menurutnya, relokasi itu gratis seterusnya, bukan hanya pada tiga bulan pertama. Deden pun sadar aksinya berjualan di bahu jalan itu melanggar peraturan pemerintah. Akan tetapi, ia tak punya pilihan.

“Ngomongin ilegal, itu parkir di jalan, saya ngomong jalan yang di sini (Pasar Senen) ya, juga ilegal kan? Kenapa dibiarin? Parkir ilegal sama kayak PKL kan, tapi kenapa kita aja yang diusik-usik?,” kata pria asal Bandung itu yang baru tujuh tahun menjadi pedagang di Pasar Senen.

Deden bukan satu-satunya mantan pedagang Blok III yang beralih jadi PKL di Jalan Pasar Senen. Saat matahari mulai beranjak ke barat, di sepanjang jalan itu, mulai dari pertigaan hingga depan bangunan Blok III, tampak berjejer puluhan pedagang menggelar dagangan.

Kebanyakan dari mereka menjual pakaian impor bekas yang terbuat dari bahan rajutan dalam berbagai model, antara lain cardigan, rompi, dan sweater. Pakaian-pakaian itu dijual dengan harga Rp 5.000 per helai.

Pantauan Kompas.com, sore itu, ada pula pedagang yang menjual scarf, tas, dan sapu tangan. Semuanya barang impor bekas pakai.

Kehadiran para pedagang di bahu jalan itu bercampur dengan parkir motor yang juga ada di sepanjang jalan itu, terutama di depan bangunan Blok II Pasar Senen. Para pedagang dan motor-motor yang terparkir itu menggunakan hampir separuh dari lebar jalanan Pasar Senen.

“Kita jualan paling cuma dua jam, ntar jam 18.00 WIB paling juga sudah balik. Biasanya kalau abis diekspos gini, pasti kita digaruk,” kata Tarjo (bukan nama sebenarnya), warga Poncol, yang berjualan pakaian bekas pakai di Pasar Senen sejak 1991.