EQUITYWORLD FUTURES – Hubungan diplomatik Arab Saudi dan Iran bisa dikatakan terus mengalami pasang surut. Kadang-kadang hubungan kedua rival di Timur Tengah itu sangat membara seperti yang terjadi saat ini. Namun ada juga momentum kehangatan, di mana kedua negara berusaha untuk mencairkan kebekuan yang ada.

Berikut adalah perjalanan waktu pasang surut hubungan kedua negara dalam 20 tahun terakhir.

Revolusi Iran tahun 1979

Penguasa Saudi dikejutkan oleh Revolusi Islam yang menggulingkan Shah Reza Pahlavi dari kekuasaanya. Shah dikenal sebagai sekutu dekat Saudi. Revolusi itu membuat Saudi mulai mewaspadai gerak gerik rejim baru Iran ketika itu yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Saudi jelas-jelas khawatir Iran akan mencoba “mengekspor” semangat revolusinya ke negara tetangga di kawasan yang rawan konflik itu.

Perang Iran-Irak tahun 1980-1988

Iran berang dengan dukungan yang diberikan Saudi terhadap Irak dalam perang 8 tahun antara kedua negara. Negeri yang dulu disebut Persia ini semakin dongkol saat mengetahui bahwa Saddam Hussein menggunakan senjata kimia dalam perang tersebut.

Insiden Mekkah tahun 1987

Krisis hubungan kedua negara mencapai titik didih ketika insiden Mekkah pada Juli 1987 yang menewaskan 402 jemaah haji termasuk 275 orang di antaranya jemaah haji Iran. Insiden itu disebabkan oleh keributan antara jemaah haji Muslim Syiah dengan petugas keamanan Saudi yang menutup jalur demonstrasi yang biasa dipakai jemaah haji Iran untuk menggelar protes terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Insiden itu mengakibatkan demonstran mengepung Kedutaan Besar Saudi di Teheran dan ikut membakar habis Kedubes Kuwait. Salah seorang diplomat Saudi, Mousa’ad al Ghamdi, tewas akibat luka setelah terjatuh dari jendela kedutaan.

Raja Fahd kemudian memutuskan hubungan diplomatik kedua negara pada April 1988.

Konferensi Islam tahun 1997

Putra Mahkota Saudi Pangeran Abdullah melakukan kunjungan bersejarah ke Teheran dalam rangka Konferensi Islam pada Desember 1997. Abdullah menjadi pejabat tertinggi pertama Saudi yang bertandang ke Iran sejak Revolusi Islam.

Pencairan Hubungan 1999

Hubungan kedua negara mulai menghangat setelah sosok reformis Mohammad Khatami terpilih menjadi Presiden Iran. Tahun 1999, Khatami menjadi pemimpin Iran pertama yang mengunjungi Saudi sejak Revolusi Islam.

Di tahun 2001, Raja Fahd secara khusus mengirimkan ucapan selamat kepada Khatami yang kembali terpilih untuk periode kedua. Puncak keharmonisan kedua negara ditandai dengan penandatanganan pakta keamanan pada April 2001.

Perang Irak dan masalah nuklir Iran

Kedua negara kembali saling mencurigai pasca tumbangnya rejim Saddam Hussein di Irak. Kaum Syiah di Irak bangkit secara politik dan menjadi condong berafiliasi ke Iran.

Hal itu  memicu kegelisahan Saudi. Riyadh semakin risau setelah Teheran meluncurkan program senjata nuklirnya yang memicu kekhawatiran Saudi bahwa Iran berambisi untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah dan memperkuat populasi pemeluk Syiah.

Pada Januari 2007, diplomat Saudi memberitahu utusan Iran bahwa program nuklir Iran membahayakan kawasan yang sebebarnya sudah rawan.

Revolusi Arab 2011

Saudi secara khusus mengirimkan pasukannya untuk menumpas kelompok oposisi pemeluk Syiah di Bahrain. Negeri kaya minyak itu jelas-jelas khawatir oposisi Bahrain berpotensi bersekutu dengan Iran jika berhasil merebut kekuasaan.

Kabel diplomatik Wikileaks membocorkan bahwa Raja Abdullah mendesak Amerika Serikat untuk mengambil tindakan tegas terhadap program nuklir Iran, bahkan kalau diperlukan dengan menggunakan kekuatan militer.

Saudi menuduh warga pemeluk Syiah di bagian timur Saudi bersekutu dengan Iran untuk menimbulkan huru hara perpecahan di negeri itu.

Proxy war 2012- sekarang

Pasca Revolusi Arab bisa dikatakan kedua negara telah terlibat konflik tidak langsung (proxy war). Saudi menjadi pendukung utama kelompok pemberontak yang anti Presiden Bashar al-Assad di Suriah. Iran sendiri dikenal sebagai sekutu loyal rejim Assad. Saudi menuduh Assad melancarkan genosida terhadap warganya sendiri. Iran balik menuduh Saudi mendukung gerakan terorisme.

Bulan Maret 2015, Saudi melancarkan serangan militer terhadap kelompok pemberontak Huthi yang pro-Iran di Yaman. Riyadh menuduh rejim Teheran mendukung kudeta yang dilakukan kelompok militan ini terhadap rejim yang sah di Yaman. Teheran balik menuduh bahwa serangan militer Riyadh menewaskan banyak warga sipil di Yaman.