EQUITYWORLD FUTURES – Pasar properti sub-sektor perhotelan Asia Tenggara terus memperlihatkan pertumbuhan hingga menembus angka 16 miliar dollar AS atau setara Rp 220 triliun.

Menurut riset C9 Hotelworks, pertumbuhan tersebut berkat sinergi positif antara pengembang properti dan jaringan hotel internasional.

Hingga Oktober 2015, terdapat lebih dari 28.000 hotel bermerek internasional di tujuh negara Asia Tenggara.

Rata-rata harga penjualan hotel di pusat kota senilai 4.870 dollar AS per meter persegi kecuali. Harga lebih tinggi ditawarkan hotel di Singapura yang meroket menjadi 25.000 dollar AS per meter persegi.

Katalis utama dari perkembangan aktual bisnis perhotelan Asia Tenggara adalah konsep pembangunan multifungsi atau mixed use development.

Para pengembang menggandeng operator internasional untuk mengelola properti hotelnya sebagai salah satu komponen utama mixed use development.

Kehadiran hotel bermerek ini diakui sangat membantu penjualan sekaligus mendongkrak harga properti.

Lonjakan harga properti pun bervariasi, mulai dari 14 persen untuk properti di pusat kota dan 26 persen di lokasi pariwisata.

Managing Director C9 Hotelworks Bill Barnett mengatakan, perkawinan operator hotel dengan pengembang properti merupakan pergeseran signifikan.

“Dan Asia Tenggara mewakili segmen transaksi terbesar saat ini,” ujar Barnett.

Indonesia dan Thailand

Dua pasar utama Asia Tenggara, menurut C9 Hotelworks, adalah Thailand dengan komposisi 37 persen, diikuti Indonesia sebesar 22 persen.

Menyusul di tempat ketiga adalah Filipina, Malaysia dan Vietnam, serta Kamboja yang menunjukkan perkembangan signifikan dengan dibukanya merek-merek hotel terkenal.

Kelompok kunci yang aktif menggarap pasar Asia Tenggara adalah Louvre, Banyan Tree Singapura, Starwood, Shangri La dan Ritz Carlton. Rantai butik seperti Alila juga berhasil menancapkan pengaruhnya dengan nilai tinggi.