EQUITYWORLD FUTURES – Kinerja buruk kelompok usaha Grup Bakrie secara umum, berdampak pada sektor properti. Hingga saat ini, pasar masih bereaksi negatif terhadap produk-produk properti yang ditawarkan klan bisnis milik Nirwan D Bakrie yakni PT Bakrieland Development Tbk beserta anak usahanya.

Analis Riset DTZ Indonesia, Vincent Sutrisno, menyampaikan pandangannya tersebut, terkait fenomena aktual bisnsi properti Grup Bakrie, kepada Kompas.com, Rabu (29/4/2015).

“Sentimen pasar masih negatif. Mau sebagus apa pun produk properti yang mereka tawarkan untuk saat ini atau beberapa tahun ke depan, pasti dipandang negatif. Pasar akan sulit menyerapnya karena sepak terjang Grup Bakrie secara umum,” tutur Vincent.

Pasca tragedi Lumpur Lampindo di Sidoarjo, Jawa Timur, kata Vincent, kinerja Grup Bakrie tak pernah kinclong. Bahkan terus melorot dari tahun ke tahun dengan hasil berbagai aset jatuh ke tangan korporat-korporat besar lainnya.

“Bakrie banyak utang, kerap ngemplang pajak, dan terlambat delivery (menyelesaikan) proyek. Hubungan dengan kontraktor pun buruk, sehingga mau tak mau mereka dihadapkan pada dua pilihan, vakum atau meneruskan dengan bendera baru,” imbuh Vincent.

Bahkan, dengan tentakel berbendera baru pun, lanjut dia, Grup Bakrie tak sanggup mengembalikan kejayaannya. The Convergence, proyek perkantoran yang diklaim ramah lingkungan, menurut Vincent, belum mampu mendulang simpati pasar.

The Convergence dibesut keluarga Bakrie dengan nama perusahaan Grup Brown melalui PT B Generasi Asia. The Convergence merupakan gedung telekomunikasi, media, dan teknologi (TMT) perdana yang didesain mengikuti perkembangan zaman.

Untuk membangun gedung canggih ini, Grup Brown menganggarkan dana sebesar Rp 800 miliar. Harga jual perdana sekitar Rp 38,5 juta per meter persegi.

Berpindah tangan

Menurut Vincent, aset-aset Bakrie di Rasuna Epicentrum yang dikelola PT Bakrie Swasakti Utama, dari total luas izin prinsip 53 hektar, kini hanya tinggal beberapa lot saja. Sejak Grup Sinarmas Land Sinar Mas melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk membeli 3 hektar lahan di superblok Rasuna Epicentrum Jakarta milik PT Bakrieland Development Tbk, berturut-turut pengembang lainnya mengikuti

“Sinarmas Land melalui PT BSD Tbk mengeluarkan fulus sebesar Rp 868,93 miliar untuk mendanai aksi korporasi itu. Mereka akan mendirikan apartemen di lahan tersebut,” ungkap Vincent.

Tak puas sampai disitu. Pada tahun 2014, Sinarmas Land kembali mengambil alih mal Epicentrum Walk yang berada di kawasan pengembangan yang sama. Raksasa yang kini dipimpin Michael Widjaja tersebut merogoh kocek Rp 297 miliar atas aksi korporasinya itu.

Menyusul Sinarmas Land adalah PT Triyasa Propertindo. Perusahaan ini merupakan anak usaha Grup Tiara Marga Trakindo. Mereka belanja lahan tiga hektar dengan nilai transaksi sebesar Rp 525 miliar.

Saat ini, Triyasa memanfaatkan lahan tersebut untuk pengembangan multifungsi perkantoran, apartemen, dan kondominium hotel. Tahap pertama yang mereka kerjakan adalah perkantoran Gran Rubina sebanyak dua menara.

Vincent mengatakan, aksi jual aset lahan tersebut adalah pilihan paling realistis bagi Bakrie saat ini. Ketimbang idle tapi terus ditagih pajak, lebih baik dilego. Mereka mendapat pemasukan besar yang uangnya bisa diputar kembali atau untuk bayar utang.

“Saya prediksikan mereka akan terus melego asetnya hingga utang lunas, dan bisa mendanai proyek-proyek yang belum selesai. Aset lahan di Bogor Nirwana Residence yang dikembangkan anak usahanya juga telah dikerjasamakan dengan BUMN Wika Realty,” tutur Vincent.

Sementara itu, Direktur PT Bakrie Swasakti Utama, Wawan D Guratno, menepis analisa Vincent. Menurut Wawan kinerja penjualan untuk proyek-proyek di bawah pengelolaannya di Rasuna Epicentrum, justru positif.

“Sepanjang 2014, penjualan kami masih positif,” ungkap Wawan, Kamis (30/4/2015).

Ada pun proyek Bakrie lainnya, macam Sentra Timur Residence yang merupakan hasil kolaborasi dengan Perum Perumnas, tidak sanggup mendongkrak reputasi maupun kinerja secara keseluruhan.

“Orang tidak memandang Sentra Timur Residence, makanya penjualannya seret. Terlebih saat ekonomi sedang lesu seperti sekarang. Digadang-gadangnya proyek ini karena dekat dengan Terminal Terpadu Modern Pulo Gebang malah menjadi bumerang,” kata Vincent.

Tidak ada gelombang baru pembelian yang dilakukan kalangan menengah muda, sebagai sasaran Sentra Timur Residence, lanjut Vincent adalah bukti bahwa pasar masih alergi dengan kelompok usaha ini.

“Pasar tidak percaya diri “menitipkan” uangnyaberinvestasi di proyek-proyek Bakrie. Kecuali mungkin mereka menggandeng perusahaan bonafid lainnya agar pasar percaya kembali. Tapi itu pun butuh waktu lama,” tutup Vincent.