EUITYWORLD FUTURES – Pasokan sapi dari peternak lokal asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Pulau Jawa khususnya DKI Jakarta, menurun drastis. Berbeda dengan tahun sebelumnya, peternak NTT mampu memasok sapi antara 1.000 hingga 15.000 ekor sapi per minggu ke pulau Jawa. Namun dalam dua pekan terakhir ini, pasokan sapi yang akan di kirim oleh peternak lokal hanya mencapai 800 ekor per minggu sesuai pesanan.

Kebijakan pemerintah pusat membatasi impor sapi dari luar negeri untuk meningkatkan produktivitas sapi lokal, ternyata tidak menguntungkan peternak dan mengakibatkan lonjakan harga daging sapi di dalam negeri.

Salah seorang peternak sapi di Kota Kupang, NTT, Eyen Umar Syaharia kepada sejumlah wartawan, Rabu (12/8/2015) kemarin mengatakan, di wilayah NTT, pasokan sapi yang diproduksi oleh para peternak untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Pulau Jawa, masih sangat minim, walaupun sudah adanya MOU antara pemerintah DKI Jakarta dan Provinsi NTT tentang pasokan daging sapi.

Menurut Eyen, kebijakan pemerintah pusat membatasi pengiriman ternak dari Australia dan Selandia Baru, tidak akan meningkatkan nilai jual produktivitas lokal. Sebabnya, keuntungan yang diperoleh penjual dan pedagang, hanya dari hasil pasokan sapi, bukan dari pasokan daging yang diperbanyak.

“Yang dikasih untuk provinsi itu terbatas. Di samping itu, untuk pengiriman ke Jakarta, harus ada persetujuan dari Jakarta lagi itu pasokannya berapa banyak? Kalau dulu, kita kirim saja berapa banyak masuk ke sana. Sekarang, umpama dari Jakarta minta 1.000 ekor, ya kita kirim 1.000 ekor sehingga harga lokal tidak naik,” beber Eyen.

Eyen pun berharap, pemerintah NTT dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera memperhatikan hal tersebut agar para peternak tidak merugi, sehingga pasokan sapi bisa normal kembali seperti beberapa bulan lalu.