EQUITYWORLD FUTURES – Usaha pemerintah melebur Pertamina Gas dan Perusahaan Gas Negara (PGN) terprediksi tidak berdampak terlalu banyak buat industri otomotif. Seperti diketahui, kedua pihak itu memiliki jaringan stasiun pengisian bahan bakar (SPBG) yang menyalurkan gas alam terkompresi (CNG) buat bahan bakar kendaraan.

Adiatma Sardjito Corporate Secretary Pertamina Gas, menjelaskan, perusahaan bergerak pada sektor midstream industri gas sebagai bagian dari Pertamina (Persero). Untuk distribusi gas, termasuk CNG, ke SPBG, dioperasikan oleh anak perusahaan Pertamina Gas, Pertagas Niaga.

“Penyatuan Pertamina Gas dan PGN tidak terlalu terkait (dengan otomotif), masalahnya ada di regulasi dan pasar,” kata Adiatma, di Jakarta, Senin (14/6/2016).

“Masalahnya ya itu, pemerintah juga bangun (SPBG) banyak kan, enggak ada yang isi. Saat ini belum jalan, rendah utilitasnya. Kalau utilitasnya tinggi, SPBG itu bisa ekonomis, pasti ada swasta yang mau bangun juga,” ucap Adiatma lagi.

Soal regulasi, Adiatma mengatakan, pemerintah belum menelurkan aturan yang membuat mobil baru berspesifikasi bisa meneguk CNG. “Kalau misalnya sudah ditetapkan mobil baru harus pakai gas otomatis SPBG nya hidup,” katanya.

Pertagas Niaga sekarang mengoperasikan lebih dari 30 SPBG di Indonesia. Tetapi peminatnya dari kalangan terbatas, transportasi umum seperti Transjakarta dan Bajaj, serta kendaraan instansi yang diwajibkan pemerintah.

Sikap Pertamina Gas menunggu kesiapan pemerintah, sebab regulasi yang bisa membuat iklim berubah bukan area perusahaan.

“Kalau jumlah yang menggunakan banyak kan jadi visible. Saat ini persis enggak ada pasar” kata Adiatma.