EQUITYWORLD FUTURES – Kebengisan orang-orang diyakini tentara itu membikin masyarakat Kampung Ipakiye, Yogokogimi, Kecamatan Paniai Timur, Kota Enarotali, Kabupaten Paniai, murka. Mereka tidak terima Julianus Yeimo dipukuli dan ditembak hingga tidak sadarkan diri dan akhirnya meninggal Senin malam lalu.

Sekitar pukul sembilan pagi 200-300 massa berkumpul di depan markas Komando Rayon Militer (Koramil) Paniai Timur dekat Lapangan Karel Gobay. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas kematian Julianus. Apalagi persoalannya sepele:ditegur karena tidak menyalakan lampu mobil saat melintas di waktu malam.

Keadaan menjadi tidak terkendali. Massa bersenjatakan panah, parang, dan batu menyerbu markas Koramil dan markas Kepolisian Sektor (Polsek) Paniai Timur.

“Aparat lalu menembak membabi buta ke arah massa berkumpul,” kata Yones, pegiat hak asasi manusia dari Gereja Kingkimi di Tanah Papua, Nabire, saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya semalam. Dia memperkirakan senjata dipakai buat menembak adalah SS-1.

Yones mendapat cerita dari para saksi, keluarga korban, dan pihak gereja di Paniai. Tapi dengan alasan keamanan, dia menolak memberikan nomor telepon seluler orang-orang mengetahui secara langsung pembantaian Senin lalu itu.

Insiden itu menewaskan empat orang dan melukai 14 lainnya. Tujuh orang masih dirawat di Rumah Sakit Umum daerah madi, Paniai, dan tiga lainnya menjalani rawat jalan.

Yones mengungkapkan tiga orang tewas di lokasi penembakan, yakni Simon degei (18 tahun, siswa kelas tiga SMA YPGI), Pius You (18 tahun, siswa kelas tiga SMK Karel Gobay), Setianus Gobay(19 tahun, siswa kelas tiga SMA Paniai Timur). Sedangkan Sediai Yeimo (23 tahun, siswa kelas tiga SMA Paniai Timur) meninggal di rumah sakit.

Simon Degei menderita luka tembak di dada hingga tembus ke punggung dan di perut. Pius You luka tembak di bahu dan perut. Setanus Gobay luka tembak perut tembus ke belakang. Sediai Yeimo luka tembak di perut tembus ke belakang.”Situasi sampai sekarang benar-benar mencekam,” ujar Yones.

Dihubungi terpisah, Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Yoce Mende membenarkan ada empat orang meninggal dan sepuluh orang cedera dalam penembakan itu. Namun dia belum bisa memastikan apakah pelakunya tentara atau polisi. “Hasil pemeriksaan sementara polisi dan tentara mengaku hanya menembak ke udara,” tuturnya.

Dia membantah ada korban tewas kelima. Dia bilang Julianus Yeimo cuma luka memar. Yoce bakal terbang ke Paniai hari ini.

Papua kembali berduka. Tanah mereka basah lagi oleh darah. Ironisnya tragedi itu berlangsung dua hari menjelang peringatan Hari Hak Asasi manusia Sedunia tepat di hari ini.