EQUITYWORLD FUTURES – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, ingin membeli ‘Omah Lowo’ di Jalan Slamet Riyadi. Omah Lowo adalah sebuah rumah kuno bangunan zaman Belanda, yang saat ini kondisinya mangkrak, bahkan digunakan sebagai ‘omah lowo’ (sarang kelelawar).

Bangunan peninggalan abad 20an tersebut mempunyai luas yang cukup jika digunakan sebagai museum, tempat pameran atau kegiatan lain. Kondisi bangunan yang masih terlihat kokoh menarik pemkot untuk mengakuisisinya, meski dengan harga sangat fantastis yakni mencapai Rp 15 miliar.

Keinginan Pemkot Solo tersebut pernah diurungkan, lantaran harganya yang mahal. Namun belakangan, mereka berminat membelinya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Budi Soeharto kepada wartawan, mengatakan, sebelum ada kepastian dari pemilik bangunan untuk memanfaatkannya, Pemkot masih memiliki peluang untuk membelinya.

“Demi menyelamatkan bangunan peninggalan abad 20 itu Pemkot sudah menyiapkan anggaran untuk mengakuisisinya. Kami masih menunggu kepastian dari pemilik bangunan apakah nanti akan benar dimanfaatkannya atau tidak,” ujar Budi belum lama ini.

Meskipun telah menyiapkan anggaran, namun kata Budi, Pemkot tetap akan mengkaji dulu mengenai bangunannya. Niat Pemkot Solo untuk membeli bangunan kuno tersebut, lanjut Budi, muncul sejak beberapa waktu lalu.

Pemkot menilai bangunan tersebut bisa dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan. Mulai dari museum batik, perkantoran dan juga kegiatan lainnya. Keseriusan Pemkot untuk mengakuisisi omah lawa sendiri juga terlihat dengan dilakukannya penelusuran ahli waris rumah tersebut .

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Endah Sitaresmi Suryandari menyampaikan hal berbeda. Ia menyatakan, ahli waris pemilik rumah berencana memanfaatkan rumah tersebut. Hal ini diketahui karena sang pemilik rumah datang langsung ke DTRK dan menanyakan langsung mengenai rumah hal-hal yang berkaitan dengan bangunan cagar budaya (BCB).

“Dengan adanya rencana tersebut, kami membatalkan rencana kajian yang akan dilakukan terhadap bangunan itu. Kajian yang akan dilakukan nantinya adalah sebagai landasan perlu tidaknya Pemkot membeli rumah lawa itu,” pungkasnya.