EQUITYWORLD FUTURES – Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Handaka Santosa, berharap pemerintah menjaga nilai tukar Rupiah tidak semakin anjlok. Bila perlu, intervensi agar Rupiah bisa mencapai batas psikologis Rp 11.000 per 1 dollar AS.

“Merosotnya Rupiah ini sangat berdampak pada psikologis, dan suasana belanja para konsumen. Mereka akan berpikir harga barang melonjak tajam. Karena itu mereka akan menunda pembelian (belanja),” tutur Handaka kepada Kompas.com, di Jakarta, Sabtu (14/3/2015).

Menurut Handaka, meski pelemahan Rupiah secara teori akan baik buat eksportir, namun sebaliknya justru bumerang dalam pengembangan produksi ekspor sendiri. Pasalnya, bahan baku barang ritel, sebagian besar masih diimpor.

“Ini menyulitkan produsen karena biaya produksi jadi membengkak,” kata Handaka.

Handaka tak menampik, butuh waktu lama bagi pemerintah untuk mendorong Rupiah kembali turun, atau minimal ke angka Rp 11.000. Kepastian waktu ini yang sebetulnya dibutuhkan para pengelola pusat belanja.

“Sampai berapa lama itu bisa tercapai? Para pengelola masih menunggu. Bila kemudian menaikkan harga sewa, maka akan membebani para penyewa, yang pada gilirannya konsumen menjadi korban. Sebaliknya bila tidak, pengelola yang akan rugi,” ujar Handaka.

Namun begitu, hingga saat ini, pengelola pusat belanja belum akan menaikkan harga sewa. Kenaikan akan terjadi pada April mendatang saat pemerintah secara efektif memberlakukan perubahan tarif dasar listrik.