EQUITYWORLD FUTURES – Penggenangan Waduk Jatigede di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang dilakukan secara resmi Senin ini (31/8/2015) tepat pukul 10.00 WIB, akan berdampak pada susutnya debit air di daerah hilir seperti Majalengka, dan Indramayu.

Debit air Sungai Cimanuk bakal berkurang lebih dari 80 persen yang mengakibatkan areal persawahan di sekitar Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Majalengka mengalami kekeringan. Kecuali jika dalam waktu bersamaan, Bendung Rentang di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, dimanfaatkan maksimal sebagai sumber alternatif irigasi.

Direktur Wahana Lingkungan (Walhi) Jawa Barat, Dadan Ramdan, mengutarakan pendapatnya kepada Kompas.com, Minggu (30/8/2015).

“Penggenangan Waduk Jatigede besok (baca; hari ini) akan menutup aliran air menuju areal persawahan di daerah hilir, Kabupaten Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan daerah sekitarnya. Debit air berkurang lebih dari 80 persen karena tertahan di Jatigede,” tutur Dadan.

Lebih jauh Dadan memaparkan, pengalihan air Sungai Cimanuk ke Waduk Jatigede makin memperparah kondisi areal persawahan di daerah hilir yang saat ini sudah mengalami kekeringan. Pasalnya, selama ini sumber utama air yang mengaliri areal persawahan di dua kabupaten tersebut adalah Sungai Cimanuk.

Selain mengurangi debit air di hilir, lanjut Dadan, penggenangan Waduk Jatigede juga akan mempercepat proses terjadinya longsor di daerah sekitarnya. Air akan meresap ke dalam rongga-rongga tanah. Gerakan air yang meresap ke dalam rongga tanah ini akan memicu terjadinya gempa imbas.

“Dampak lainnya adalah tingkat sedimentasi Sungai Cimanuk makin tinggi, yang akan mempercepat proses pendangkalan. Ketika penggenangan teerjadi, akan membawa lumpur yang menyebabkan sedimentasi. Dampak ketiga adalah kematian satwa liar tersisa, monyet ekor panjang, tak bisa dielakkan,” imbuh Dadan.

Sementara, menurut Kepala Satuan Kerja Proyek Pembangunan Waduk Jatigede, Airlangga Mardjono, penggenangan Waduk Jatigede tidak akan menyebabkan terjadinya kekeringan permanen persawahan di sekitar aliran Sungai Cimanuk, seperti di Indramayu, dan Majalengka. Kalaupun sekarang terjadi kekeringan adalah karena musim kemarau, dan tidak mungkin berlangsung selamanya.

“Sekarang memang musim kemarau. Kekeringan terjadi di mana-mana. Jadi kalau pun Sungai Cimanuk menjadi sumber utama penggenangan Waduk Jatigede, resistensinya tinggi. Sesuai inflow nanti air yang menggenangi waduk ini 1 meter kubik per detik,” imbuh Airlangga.

Pembangunan fisik Waduk Jatigede, sebagai terbesar kedua di Indonesia setelah Waduk Jatiluhur, telah direncanakan selama lebih dari 50 tahun. Gagasan pembangunan waduk ini digaungkan pertama kali oleh Presiden RI Soekarno pada tahun 1963.

Waduk ini dirancang memiliki permukaan seluas 41,22 kilometer persegi. Volume totalnya diperkirakan mencapai 980 x 106 meter kubik, sedangkan volume efektif 877 x 106 meter kubik. Sementara bendungannya didesain sepanjang 1.715 meter dengan lebar mercu bendungan 12 meter dan volume mencapai 6,7 x 106 meter kubik.

Adapun bangunan lain pendukung Waduk Jatigede adalah bangunan pelimpah, intake irigasi untuk pengairan, terowongan pengelak untuk pembelokkan air sungai ke jaringan irigasi, dan power waterway untuk pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 110 megawatt.