EQUITYWORLD FUTURES – Nilai tukar Rupiah belum bisa mengimbangi penguatan Dolar Amerika Serikat lantaran adanya perbaikan ekonomi di negara adidaya tersebut. Padahal, harga minyak dunia kembali meningkat, namun, belum membuat Dolar Amerika Serikat melemah.

Head of Research Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan harga minyak mentah dunia meningkat seiring dengan kembali tingginya tensi geopolitik di Libya dan aksi mogok pekerja tambang minyak di Nigeria. Namun, belum signifikan mengimbangi masih berlanjutnya penguatan Dolar AS.

“Akibatnya laju Rupiah kembali kian tertekan,” ujar Reza dalam riset hariannya, Jakarta, Selasa (16/12).

Reza menegaskan apalagi masih adanya persepsi di kalangan pelaku pasar bahwa seolah-olah BI menyetujui pelemahan tersebut karena dianggap sudah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Selain itu, penilaian masih berlanjutnya kenaikan BI rate dan maraknya jatuh tempo utang para korporasi turut menambah sentimen negatif.

“Laju Rupiah berada di bawah target level support 12.443. Belum adanya sentimen maupun berita positif membuat laju Rupiah diperkirakan dapat melanjutkan pergerakan negatifnya. Rp 12.623-12.588 (kurs tengah BI),” kata dia.