EQUITYWORLD FUTURES – Lesunya ekonomi yang berdampak pada tergerusnya daya beli konsumen, serta terpuruknya Rupiah terhadap Dollar AS dituding menjadi biang keladi anjloknya tingkat penjualan para pengembang properti.

Marketing Manager PT Belaputera Intiland, pengembang Kota Baru Parahyangan, Raymond Hadipranoto, tak menampik unsur melemahnya ekonomi dan menguatnya Dollar AS ikut memengaruhi kinerja penjualan perusahaannya.

“Penjualan anjlok sampai 40 persen,” cetus Raymond kepada Kompas.com, Rabu malam (26/8/2015).

Menurut Raymond, anjloknya kinerja penjualan terlihat dari transaksi yang terjadi. Saat normal, Belaputera bisa menjual Rp 80 miliar sampai Rp 90 miliar dalam sebulan. Kini, penjualan mencapai Rp 40 miliar-Rp 60 miliar saja sudah dia syukuri.

“Bahkan ada saat-saat tertentu seperti Maret dan Juli lalu, penjualan kami tak mencapai Rp 20 miliar,” ungkap Raymond.

Saat ini, Belaputera tengah memasarkan perumahan dengan rentang harga Rp 1,2 miliar dengan ukuran 65/126 hingga Rp 9 miliar untuk dimensi 348/900.
Mengantisipasi gejolak ekonomi mendatang, kata Raymond, Belaputera akan fokus pada pengembangan apartemen murah seharga Rp 340 jutaan. Lokasinya dekat dengan Universitas Maranatha Bandung.

Di atas lahan seluas 5 hektar, Belaputera akan membangun lima menara apartemen. Saat ini progresnya telah mencapai tahap finalisasi desain.

“Apartemen ini kami bangun untuk menggarap pasar yang belum kami sentuh sebelumnya. Lagipula peluangnya besar, karena banyak mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi di sini yang membutuhkan hunian atau kos-kosan,” imbuh Raymond.

Sebagai informasi, Kota Baru Parahyangan merupakan perumahan skala kota yang dikembangkan dengan luas lahan 1.250 hektar. Sekitar 300 hektar di antaranya sudah terbangun dengan berbagai macam fasilitas. Selain hunian, juga terdapat komersial, galeri seni, fasilitas pendidikan, masjid, dan lain-lain.