EQUITYWORLD FUTURES – Perguruan tinggi kini perlu memanfaakan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas sistem manajemen dan pengajaran kampus. Hal itu mencakup infrastruktur, kurikulum, fasilitas, pelayanan, dan kegiatan belajar yang berbasis teknologi.

Kenapa begitu penting? Teknologi Informasi (TI) memegang peranan penting jika perguruan tinggi ingin meningkatkan kualitas pendidikan ke taraf internasional.

“TI mengambil peran penting dalam berbagai aspek, misalnya research quality, teaching quality, innovation, facility, dan internationalization,” kata Ivan Sangkereng, IT Director Universitas Bina Nusantara (Binus), seperti dikutip infokomputer.com, Kamis (9/4/2015).

Ivan mencontohkan, di bidang pengembangan riset, perguruan tinggi perlu mengadopsi sistem penyimpanan data berbasis cloud computing. Selain produk riset menjadi mudah diakses, sistem ini juga membuka peluang bagi kampus untuk berkolaborasi dengan peneliti internasional.

“Kalau dari segi fasilitas, kampus kami misalnya, telah terintegrasi dengan jaringan internet yang memadai sehingga dosen dan mahasiswa bisa menambah pengetahuan secara online,” tuturnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan inovasi dan kualitas pengajaran, perguruan tinggi sebaiknya banyak berdiskusi bersama komunitas akademis dan pelaku industri. Hasil diskusi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan memperbaiki kurikulum atau metode pengajaran yang pada akhirnya juga meningkatkan kualitas lulusan universitas.

Fungsi lain dari TI, misalnya, menyokong kegiatan belajar mengajar menggunakan metode pembelajaran elektronik atau e-learning. Portal khusus yang biasa disebut Learning Management System (LMS) ini bisa memberikan alternatif proses belajar lewat internet, baik dari desktop maupun mobile. Materi pembelajaran pun bisa dengan mudah diakses mahasiswa.

“Binus sudah menerapkan blended learning yang memungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah tertentu di luar kurikulum program studinya. Diharapkan, mahasiswa memiliki kesempatan memperluas wawasan,” ucap Ivan.

Penuhi kebutuhan industri

Tak dimungkiri, hingga kini, masih terdapat gap antara kebutuhan industri dan kualitas lulusan perguruan tinggi. Keluhan yang kerap didengar dari pelaku industri adalah lulusan universitas tidak siap bekerja, baik secara mental maupun keterampilan. Bagaimana TI mengambil peran memperkecil gap ini?

“Kami melakukan beberapa hal. Misalnya riset internal dan eksternal untuk mendapatkan masukan kualitas pembelajaran,” tutur Ivan.

Hal lain yang dilakukan Binus, contohnya, dengan melakukan diskusi bersama pelaku industri dan mahasiswa untuk mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan industri. Semua data terkumpul ini masuk dalam sebuah knowledge management system yang berfungsi mengelola seluruh aktivitas internal pengajar Binus.

“Dari sini, semua data dikombinasikan dan dieskalasi menjadi value baru yang bisa dimasukkan ke dalam kurikulum dan konten,” jelas Ivan.

Lebih dari itu, kerja keras Binus mengelola dan memanfaatkan kemajuan teknologi ternyata turut mendapat pengakuan dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III. Pada Rabu (2/12/2015) lalu, Binus meraih gelar sebagai “Perguruan Tinggi Swasta Terbaik 2015″.

Sebanyak 7 kategori dimenangkan, yaitu untuk bidang teknik, komputer, riset dan pemanfaatan, tata kelola, pembinaan mahasiswa, pengembangan dosen, dan pengembangan kerja sama.

“Raihan ini merupakan hasil kerja keras dari rekan-rekan dosen, staf dan mahasiswa di lingkungan kampus Binus University yang telah mewujudkan keberhasilan ini jadi nyata,” ucap Prof Harjanto Prabowo, Rektor Binus kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2015).

“Namun terbaik juga tidak selamanya, kita setiap saat juga harus perbaiki terus,” lanjutnya.

Di sisi lain, Ivan berharap pemimpin TI di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, juga lebih responsif terhadap perubahan dan perkembangan teknologi. Mereka, lanjut Ivan, harus siap dan mampu mengaplikasikan TI dalam value chain atau aktivitas di perguruan tinggi.