EQUITYWORLD FUTURES – Konflik antar pengojek konvensional dengan pengojek berbasis aplikasi bisa berdampak pada keamanan dan keselamatan konsumen sebagai penumpang. Dalam beberapa kejadian, tidak hanya pengojek berbasis aplikasi yang mendapat intimidasi dan ancaman tertentu, bahkan penumpang juga ada yang diancam tidak boleh menggunakan jasa pengojek berbasis aplikasi, meski telah memesan sebelumnya.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengimbau masyarakat yang merasa diintimidasi baik secara halus maupun sampai taraf kasar agar melaporkan hal tersebut kepada polisi.

“Teror dan ancaman adalah perkara pidana. Bahkan meneror via WhatsApp pun bisa dikenakan pidana,” kata Reza, Senin (3/8/2015).

Dalam salah satu akun Facebook bernama Farah Grid Aulia, terdapat cerita yang menyebutkan dirinya pernah diancam oleh pengojek konvensional di depan pusat belanja Point Square, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Akun itu menjelaskan, awalnya pengojek konvensional mengusir pengojek berbasis aplikasi yang sedang berbincang dengan dirinya. Setelah itu, pengojek konvensional mendatangi pemilik akun Farah dan mengancam akan menabrak dan memecahkan kepalanya jika memesan jasa ojek berbasis aplikasi di sana.

Menurut Reza, masyarakat yang merasa diintimidasi maupun diancam pengojek perlu memperhatikan sejumlah tanda sebagai identitas pengojek tersebut.

“Masyarakat bisa lapor ke polisi, tapi menjadi tidak mudah diusut jika ojek konvensional tidak memiliki identitas yang jelas. Mereka kan memang tidak dinaungi organisasi yang terlegitimasi,” tutur Reza.

Untuk menghindari konflik tersebut, masyarakat bisa memperhatikan situasi di sekeliling sebelum menggunakan jasa ojek. Jika menggunakan jasa ojek berbasis aplikasi, disarankan tidak bersinggungan langsung dengan tempat-tempat mangkal para tukang ojek konvensional.