EQUITYWORLD FUTURES – Negara-negara yang menjadi pendukung utama bagi perdamaian di Suriah harus segera menghentikan pihak bertikai yang menyerang sasaran sipil dan tidak sah di negara itu, khususnya di Aleppo, Suriah utara.

Sasaran sipil dan tidak manusiawi, yang dapat dianggap sebagai kejahatan perang, ialah serangan yang menyasar fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan klinik, serta sarana umum lainnya.

Penyelidik kejahatan perang Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan hal itu dalam sebuah pernyataan tertulis pada Rabu (11/5/2016) di Geneva.

Komisi Penyelidikan PBB mengatakan, serangan udara dan tembakan rudal beruntun dalam tiga pekan terakhir terus dilancarkan ke wilayah warga sipil dalam beberapa waktu terakhir ini.

“Mereka, yang tidak menghormati aturan perang, harus menghadapi hukuman,” kata Kepala Komisi Penyelidik PBB, Paulo Pinheiro.

“Warga akan terus menjadi sasaran empuk, menjadi korban, dan dibunuh secara keji, jika kultur pembiaran tidak segera dihentikan,” kata dia.

Menurut penyelidik PBBB, hukum internasional telah mengatur dan mengharuskan semua pihak yang bertikai untuk membedakan sasaran sah dari yang tidak sah.

Pembedaan itu tidak diindahkan oleh pihak-pihak yang bertikai dan para pendukung mereka.  Penyelidik menegaskan,  banyak serangan yang dilakukan akhir-akhir ini dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Tim penyelidik PBB secara khusus menyebut serangan yang menyasar rumah sakit Al Quds di Aleppo, 27 April lalu dan beberapa serangan ke fasilitas kesehatan di sana.

Paling biadab

Serangan udara, yang selama ini diduga dilakukan oleh koalisi Rusia dan Suriah,  juga terjadi di sejumlah pasar, tempat penampungan air umum.

Serangan udara paling biadad ialah menarget perkemahan pengungsi Provinsi Idlib, 5 Mei lalu, yang menewaskan sedikitnya 30 orang.

Serangan itu terjadi dua bulan setelah kesepakatan penandatanganan gencatan senjata yang yang dimotori Rusia dan Amerika Serikat.

Gencatan senjata itu telah berakhir dengan kegagalan. Sedangkan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assd berencana untuk menyerang Aleppo, kota terbesar di Suriah utara, yang dikuasai oposisi.

. .

Tim penyelidik PBB tidak secara tegas menyebut pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan dengan sasaran warga itu. Namun, sejauh ini hanya pemerintah Suriah dan Rusia yang diketahui menggerahkan jet-jet tempur di Aleppo.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zaid Ra’ad al Hussein, pekan lalu, mengatakan, laporan awal menyebutkan bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan di perkemahan pengungsi Idlib.

Rusia dan Suriah menyangkal telah menyasar kamp pengungsi dan fasilitas kesehatan di Aleppo.