EQUITYWORLD FUTURES – Anggota DPR, Kurtubi meminta PT Pertamina (Persero) mengelola sendiri Blok Mahakam, Kaltim supaya memberikan manfaat maksimal bagi negara. Pertamina diyakini mampu melaksanakan tugas itu.

“Dengan 100 persen Blok Mahakam dimiliki Pertamina, maka negara juga mendapat manfaat sebesar 100 persen,” ujarnya seperti dikutyip Antara di Jakarta, Minggu.

Keputusan pemerintah memberikan Mahakam yang sebelumnya dikelola Total E&P Indonesie ke Pertamina, dinilai langkah tepat. Terlebih, Total sudah mengelola blok Mahakam selama 50 tahun. Alasan kedua, cadangan migas di Blok Mahakam masih besar.

“Terbukti, Total masih berkeinginan melanjutkan pengelolaan Mahakam,” ujarnya.

Dalam pandangannya, jika Pertamina mengelola 100 persen Mahakam, pemanfaatan gas buat domestik bisa lebih mudah dan maksimal. Negara bisa mengatur pemanfaatan gas Mahakam buat konversi bahan bakar kendaraan dari minyak ke gas, lalu untuk rumah tangga, listrik, pupuk, dan industri juga bisa lebih maksimal.

Pada akhirnya Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada minyak, sekaligus mengurangi impor dan subsidi BBM. “PLN dan industri juga tidak lagi berteriak kekurangan gas,” ujarnya.

Kurtubi mengingatkan Pertamina jika tetap membuka opsi kerja sama pengelolaan dengan Total. Asalkan perhitungan secara ekonomi menguntungkan bagi negara.

“Lakukan pembicaraan b to b. Tawarkan opsi ‘swap’ ke Total yang paling menguntungkan bagi negara. Kalau memang tidak ada titik temu, maka kembali ke opsi dikelola 100 persen oleh Pertamina,” ujarnya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio juga mengapresiasi kebijakan pemerintah menyerahkan Mahakam ke Pertamina. “Sekarang, tergantung Pertamina, sanggup tidak mengelola sendiri,” katanya.

Menurut dia, kalau memang Pertamina mengelola 100 persen Mahakam, maka harus ada jaminan produksi tidak turun.

Namun, seperti halnya Kurtubi, Agus juga meminta Pertamina membicarakan skema bisnis pengelolaan Mahakam bersama Total.

“Pertamina bisa saja mengelola blok milik Total di luar negeri asalkan menguntungkan bagi negara dan meningkatkan ketahanan energi Indonesia,” katanya.

Pemerintah berencana menyerahkan pengelolaan Mahakam ke Pertamina pascahabis kontrak dengan Total E&P Indonesie pada 2017.

Selanjutnya, Pertamina bisa mengelola 100 persen Mahakam atau mengajak Total dengan kompensasi memperoleh blok milik perusahaan asal Prancis tersebut di luar negeri.

Total menandatangani kontrak Blok Mahakam pada 31 Maret 1967 dengan masa selama 30 tahun. Pada 1997, Total mendapat perpanjangan kontrak selama 20 tahun hingga berakhir 31 Maret 2017.