EQUITYWORLD FUTURES – Lereng gunung Sindoro di Desa Mranggen Kidul, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menjadi saksi bagaimana Petisi Sindoro dibuat.

Perancangnya tidak lain ialah para petani tembakau dari 14 kecamatan di Temanggung, dibantu Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).

Petisi Sindoro ini kian bermakna unik karena disertai Ritual Among Tebal. Ritual itu sebentuk doa kepada leluhur, dengan sajian 14 tumpeng besar, sekaligus menandai tanam perdana tembakau.

Petisi itu memuat empat amanat yang ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo. Isinya mendesak rancangan undang-undang pengendalian tembakau agar masuk agenda prolegnas, dana bagi hasil tembakau dikembalikan ke kesejahteraan petani, mengutamakan tembakau lokal dan membuat dewan tembakau nasional.

Menurut Kepala APTI Agus Parmuji, isi petisi itu perlu segera direalisasikan untuk menjaga dan mempertahankan keberadaan petani tembakau. Jumlah petani pun saat ini diklaim mencapai 2,3 juta orang.

Petisi disampaikan kepada Presiden RI dan kalangan DPR RI. Mereka mendesak agar RUU Pengendalian Tembakau perlu dibuat agar para petani mampu mendapat jaminan perlindungan hukum.

“Kami menolak impor tembakau, dan segera mengesahkan RUU pengendalian tembakau,” kata Parmuji.

Akibat dari tidak adanya dasar hukum, petani tembakau rentan terkena pelanggaran yang bersifat eksesif dan irasional. Pemerintah juga dikritik karena kebijakan impor tembakau terlampau longgar.

“Mendesak agar pemerintah dan DPR mempertahankan kedaulatan tembakau,” pinta Pamudji.

Ritual Among Tebal itu sebagao ikhtiar para petani agar hasil panen yang ditanam berlimpah. Sementara petisi ditujukan agar tembakau lokal bisa dijamin keberadaannya secara legal oleh konstitusi.

“Saya sama pak Ganjar di belakang petani tembakau. Tanam harus optimis, yakin diberi yang terbaik. Soal harga, masalah itu bisa diselesaikan,” ujar Bupati Temanggung Bambang Soekarno.

Dalam kesempatan ini pula, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo diberi predikat sebagai Senopati Tembakau. Namun, saat Ganjar diberi kesempatan berbicara, ia enggan menerima gelar tersebut, dan memilih sebagai “hansip” tembakau.

“Aku enggak jadi Senopati, jadi hansip wae,” kata Ganjar.

Ia pun berjanji akan menyampaikan keluhan petani tembakau kepada pemerintah pusat. Namun ia meminta agar kualitas tembakau lokal ditingkatkan agar bisa bersaing dengan tembakau negara lain.

“Saya pernah dua kali datang ke pabrik rokok, mereka tentu punya pilihan. Tugas kita produksi mbako terbaik agar spek-nya masuk. Pabrik rokok punya cara belinya,” kata dia.

“Jadi, mulai sekarang bisa enggak mulai lobi pada pabrikan, melakukan kontrak. Tapi ya mbako-nya ditingkatkan, agar bisa bersaing dengan produk dari Jerman,” pungkas Ganjar.