EQUITYWORLD FUTURES – Belum usai kesedihan yang menimpa pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, kini AirAsia harus menelan pil pahit kembali karena ada seorang pilotnya yang diduga menggunakan narkoba. Peristiwa tersebut menjadi pukulan kedua setelah sebelumnya kecelakaan AirAsia yang menewaskan beberapa korban jiwa, menggemparkan seluruh dunia.

Seorang pilot senior yang berinisal IF diduga telah positif menggunakan narkoba. Hal ini terbongkar setelah pihak kementerian perhubungan melakukan tes urine di Bali.

Bagaimana cerita pilot yang positif menggunakan narkoba? Berikut rangkuman beritanya:

1. Pilot Senior AirAsia diduga pakai narkoba jenis morfin

Pilot Indonesia Air Asia berinisial FI dengan nomor penerbangan QZ7510 dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Bandara Internasional Ngurah Rai Bali diduga positif menggunakan narkoba jenis morfin, kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi M Djuraid.

“Temuan tersebut diperoleh setelah pemeriksaan urine yang dilakukan tim Balai Kesehatan Penerbangan dan Tim Direktorat Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub di Bandara Ngurah Rai, pagi tadi, Kamis 1 Desember 2015,” kata Hadi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (1/12).

Pemeriksaan dilakukan sesaat setelah yang bersangkutan mendarat Pukul 08.50 WIT.

Semula yang bersangkutan akan kembali terbang ke Jakarta pada pukul 09.20 dengan penerbangan QZ7511.

Atas temuan tersebut pilot FI dilarang terbang dan akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Balai Kesehatan Penerbangan Kemenhub di Jakarta.

Pihak AirAsia membenarkan ada pilotnya yang ditahan karena tes narkoba. Namun mereka mengaku pilot yang sudah bergabung 9 tahun itu menderita tifus sehingga mengkonsumsi obat-obatan. Mereka akan mengeceknya terlebih dahulu.

2. Pilot senior AirAsia benarkan ada pilot tersandung narkoba

Belum usai musibah yang menimpa AirAsia QZ8501, kini maskapai murah itu kembali tersandung masalah. Salah satu pilot senior AirAsia, terindikasi mengkonsumsi narkoba. Hal ini diketahui, setelah pihak kementerian perhubungan melakukan tes urine di Bali. Pilot ini dinyatakan positif dan dilarang terbang.

Hal ini dibenarkan Presdir AirAsia Indonesia, Sunu Widiyatmoko dalam keterangan persnya di Crisis Center AirAsia Polda Jawa Timur, Kamis (1/1).

“Kami ingin klarifikasi terkait pemberitaan. Kabar itu memang benar. Tapi kami akan melakukan tes lanjutan agar mengetahui hasil lebih detailnya. Kami akan bekerjasama dengan BNN (badan narkotika nasional) dan rumah sakit ketergantungan obat,” terang Sunu.

Sunu juga mengatakan, dari hasil interview yang dilakukan pihaknya, diketahui kalau si pilot baru saja menderita sakit tifus dan dirawat di rumah sakit sejak 26 hingga 29 Desember 2014. Karena itu dia tak mau buru-buru memastikan pilot itu positif.

“Yang bersangkutan masih menggunakan obat jalan, seperti actifet (sirup obat batuk). Dan biasanya, obat batuk, flu yang digunakan si penderita, hasil positif,” kata dia.

Sayang, Sunu enggan menggelar tanya jawab dengan wartawan dalam keterangan persnya itu. Bahkan, dia juga enggan menjawab pertanyaan identitas pilotnya yang terindikasi positif narkoba tersebut, termasuk inisial si pilot.

“Dia (si pilot) sudah bersama kami selama sembilan tahun, dan memiliki track records baik. Dia pilot senior, sudah berkeluarga, sudah memiliki keluarga,” pungkasnya.

3. AirAsia tegaskan pilot positif narkoba bukan kapten Iriyanto

Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko menegaskan bahwa pilot yang terindikasi mengonsumsi narkoba bukanlah pilot dari pesawat AirAsia QZ8501 yang mengalami kecelakaan.

“Kami ingin klarifikasi terkait pemberitaan di televisi. Kabar itu memang benar bahwa pilot kami positif narkoba, namun bukan dari pesawat AirAsia QZ8501 yang mengalami kecelakaan,” kata Sunu dalam keterangan pers di Polda Jawa Timur, Surabaya, Kamis (1/1), seperti dikutip dari Antara.

Ia mengatakan AirAsia akan melakukan tes lanjutan dengan kerja sama Badan Narkotika Nasional (BNN) serta rumah sakit ketergantungan obat kepada pilot yang berinisial FI, supaya mengetahui hasil lebih detailnya.

4. Pilot IF sebelumnya sakit typus

Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko mengatakan dari hasil wawancara AirAsia dengan pilot bersangkutan sebelumnya diketahui pilot itu baru saja menderita sakit tipus dan dirawat di rumah sakit sejak 26 hingga 29 Desember 2014.

“Yang bersangkutan masih menggunakan obat jalan, seperti sirup obat batuk. Dan biasanya obat batuk, flu yang digunakan si penderita, hasilnya terdeteksi positif, karena memang dalam obat itu ada bahan khusus,” katanya.

Sunu mengaku pilot bersangkutan adalah senior dan sudah bekerja selama sembilan tahun bersama AirAsia dan memiliki rekam jejak baik.

“Dia pilot senior, sudah berkeluarga, sudah memiliki keluarga,” katanya.

Sunu mengaku, usai peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 Minggu (28/12), Manajemen AirAsia langsung melakukan pemeriksaan serentak kepada semua kru pesawat.

“Saya ingin sampaikan terkait berita yang beredar, salah satu pilot kami terbukti positif dan harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, tapi bukan pilot dari pesawat AirAsia QZ8501 yang mengalami kecelakaan,” katanya.