Bank Indonesia terus mempertahankan Suku Bunga Acuan (BI Rate) di level 7,5 persen sembilan bulan berturut-turut. Selain mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia, langkah ini dilakukan dengan alasan masih ada risiko eksternal dan domestik, yang bisa mengganggu target inflasi maupun defisit transaksi berjalan 2014.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengingatkan, BI Rate hadir sebagai jangkar inflasi nasional jangka panjang. Wajar bila perubahan tidak dilakukan serta merta hanya karena ada indikasi perbaikan ekonomi bulanan atau triwulanan.

“BI rate bukan untuk menjangkar kepentingan jangka pendek, melainkan untuk menjangkau target inflasi 2014 dan 2015. Karena ada time lag 12-18 bulan, visi BI Rate menjaga inflasi lebih jauh, ujarnya di Gedung Pusat BI, Jakarta, Kamis (10/7).

Lebih jauh lagi, Direktur Kebijakan Moneter BI Solikin M. Juhro menegaskan BI Rate dikerek setinggi itu sejak November 2013 dengan harapan pemerintah melakukan pembenahan struktural. Bank sentral masih melihat sisi ekspor lebih lemah dibandingkan impor dalam neraca perdagangan. Sehingga masalah tekanan inflasi dan defisit transaksi berjalan langgeng selama belasan bulan.

Pada pertemuan BI dan pemerintah pekan lalu, isu ini kembali dilontarkan otoritas moneter. Asal tanda-tanda perbaikan struktural itu terwujud, maka BI Rate potensial turun.

“Karena itu kita ingatkan komitmen penguatan reformasi struktural dalam roundtable meeting dengan pemerintah. Kita sudah ada pemahaman yang sama,” kata Solikin.

BI optimis reformasi struktural ekonomi Indonesia tidak akan mandeg, walau bakal ada pemerintahan baru. Artinya, penyesuaian BI rate ketika terjadi peralihan kepemimpinan sangat mungkin terjadi

Solikin menjelaskan, dalam visi-misi calon presiden, baik kubu Prabowo Subianto maupun Joko Widodo tercantum komitmen menjalankan reformasi struktural.

“Mereka tidak pernah tidak menyebut reformasi struktural. Sehingga kita berharap tanggal 22 Juli, siapapun presidennya, posisi mereka akan tetap seperti itu,” ujarnya.

Selain terus mempertahankan BI Rate, bank sentral juga meneruskan kebijakan terkait suku bunga lending facility dan suku bunga deposit facility. Masing-masing dipatok tetap di 7,5 persen dan 5,75 persen.