EQUITYWORLD FUTURES – Harga minyak kembali memudar pada perdagangan di Senin pekan lalu seiring belum sepakatnya negara-negara produsen minyak di Timur Tengah untuk mengurangi produksi minyaknya, sementara produksi di Amerika Serikat tetap tinggi dan menyebabkan utang dan risiko kebangkrutan meningkat.

Untuk perdagangan bulan depan West Texas Intermediate (WTI) CLc1 diperdagangkan pada 36,23 dollar AS per barel, turun sekitar setengah dollar dari perdagangan sebelumnya.

International Brent futures LCOc1 turun 45 sen ke level 38,22 dollar AS per barel.

Penurunan harga minyak mencapai 4 persen di Jumat pekan lalu ketika Arab Saudi mengatakan mereka akan berpartisipasi untuk melakukan penahanan produksi global hanya jika Iran sebagai rivalnya juga melakukan hal yang sama.

Akibatnya, hal ini menimbulkan kekhawatiran akan naiknya produksi global yang telah menurunkan harga minyak hingga 70 persen sejak 2014.

Produksi minyak AS juga tetap tinggi, walaupun sudah ada penahanan pengeboran minyak seiring meningkatnya risiko kebangkrutan perusahaan minyak.

“Di AS, rig yang menargetkan produksi minyak sudah turun 10 perusahaan dari sebelumnya 362 perusahaan yang aktif pekan lalu,” kata ANZ bank.

Walaupun ada penurunan jumlah rig di AS, produksi tetap tinggi sehingga eek terhadap harga minyak secara keseluruhan tidak terjadi, sementara setiap operator minyak berjuang untuk tetap hidup.

Semua hal ini mencerminkan jika harga minyak tidak akan terkoreksi pada waktu dekat, dan hedge funds harus memangkas posisi mereka yang hanya bisa menguntungkan jika harga minyak kembali naik.