Nilai tukar rupiah masih rawan tertekan posisinya seiring tren penguatan dollar AS. Pada perdagangan Kamis (2/10/2014) ini, pergerakan mata uang garuda pun kembali menantikan arah angin sentimen eksternal.

Data manufaktur AS diumumkan memburuk semalam. Akan tetapi baiknya data tenaga kerja serta buruknya data Zona Euro, membuat dollar index hanya melemah tipis.

Menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia, investor juga masih fokus terhadap pengumuman Bank Sentral Uni Eropa (ECB) malam nanti yang walaupun tidak akan mengubah suku bunga, petunjuk kebijakan baru untuk merespon perlambatan ekonomi yang terus berlangsung akan menentukan arah harga aset global. “Dollar S diperkirakan kembali menguat menjelang pertemuan ECB itu,” sebutnya.

Dari dalam negeri, inflasi yang diumumkan naik serta kembalinya defisit neraca perdagangan justru diikuti oleh penguatan rupiah dan penurunan imbal hasil SUN. Mayoritas mata uang Asia yang menguat hingga sore kemarin membuktikan bahwa pergerakan rupiah masih didominasi oleh sentimen di pasar global.

“Hari ini jika penguatan dollar AS kembali di pasar Asia menjelang pertemuan ECB dan gejolak politik dalam negeri muncul lagi, rupiah berpeluang kembali melemah,” tulis Samuel Sekuritas.