PT. EQUITYWORLD FUTURES – Lantaran terserang hama tikus, produksi gabah petani di Polewali Mandar Sulawesi Barat turun hingga 80 persen.

Selain produksi melorot, harga gabah yang hanya dihargai Rp 3.800 per kilogram diakui petani sangat tidak menguntungkan di tengah naiknya harga sarana produksi termasuk biaya pengaolahan dari musik ke musim.

Abdul Rauf, salah satu petani di Polewali Mandar mengaku sebelumnya produksi gabahnya bisa mencapai lima hingga enam ton per hektare. Namun karena diserang hama tikus sejak tanam hingga dipanen, produksinya turun drastis hingga 1 ton per hektare.

EQUITY WORLD Rauf mencontohkan, satu petak sawah milik Rauf yang semula bisa menghasilkan lima hingga enam karung, tahun ini hasilnya hanya satu karung. Itu pun kualitasnya buruk.

Selain itu, permainan jaringan tengkulak yang mencengram petani sejak lama membuat petani tak berdaya.

“Salah satu petak sawah saya yang sebelumnya bisa menghasilkan hingga enam karung kini hanya satu karung saja. Harganya pun sangat tidak menguntungkan,” ujar Abdul Rauf.

“Pedagang seenaknya saja memotong timbangan karena alasan yang tidak jelas,”ujar Nias, petani lainnya di Polewali Mandar

Petani menilai, idealnya harga gabah petani di tengah melonjaknya harga sarana produksi terutama pestisida dan herbisida setiap musik tanam minimal dihargai Rp 5.000 per kilogram seperti tiga tahun lalu saat presiden jokowi bar saja terpilih.

Belakangan harga gabah hanya dikisaran 4000 rupiah. Sepeerti petani lainnya, Equity world  rauf mengeluh lantaran sarana produksi yang terus melonjak tidak diimbangi dengan kenaikan harga gabah di tingkat petani.