PT. EQUITYWORLD FUTURES – Minyak berjangka turun, terjebak dalam kekacauan seputar Donald Trump bahkan saat produksi minyak mentah AS merosot untuk pertama kalinya dalam 13 minggu terakhir.

Sementara kepresidenan Trump tenggelam dalam krisis, harga minyak mentah menyusut 2,1 persen di New York karena investor beralih dari aset berisiko. Gejolak politik tersebut menyusul optimisme yang dipicu oleh data AS yang menunjukkan cadangan minyak mentah pada pekan lalu turun untuk minggu keenam berturut-turut karena produksi mengakhiri kenaikan terpanjang sejak 2012. Menteri Energi Aljazair Noureddine Boutarfa mengatakan pada hari Kamis bahwa sebagian besar negara anggota OPEC mendukung pemotongan selama sembilan bulan.

EQUITYWORLD FUTURES Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan mitranya dijadwalkan bertemu minggu depan untuk memutuskan apakah kesepakatan pasokan akan dibatalkan jika akan berakhir pada bulan Juni.

Sementara Arab Saudi dan Rusia telah mengatakan bahwa mereka mendukung perpanjangan pembatasan hingga bulan Maret tahun depan, yang mungkin berarti kehilangan pangsa pasar yang lebih besar lagi bagi produsen seperti Nigeria dan Libya yang dibebaskan, menurut Saxo Bank A/S.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni turun 38 sen menjadi $ 48,69 per barel pada pukul 09:44 pagi di New York Mercantile Exchange. Harga WTI naik 41 sen untuk menetap di $ 49,07 pada hari Rabu, level tertinggi sejak 28 April. Total volume yang diperdagangkan sekitar 22 persen di atas rata-rata 100 hari.

Minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 35 sen menjadi $ 51,86 barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Kontrak tersebut naik 56 sen atau 1,1 persen, ditutup di level $ 52,21 pada hari Rabu. Minyak mentah acuan global diperdagangkan sampai bulan Juli lebih besar $ 2.84 dari WTI.

Cadangan minyak mentah AS turun 1,75 juta barel menjadi 520,8 juta barel pekan lalu, turun dari rekor 535,5 juta pada akhir bulan Maret, menurut EIA. Produksi minyak negara turun menjadi 9,3 juta barel per hari, menurut data dari EIA yang dirilis hari Rabu.(frk)

Sumber: Bloomberg