PT. EQUITYWORLD FUTURES – Emas naik ke level tertingginya dalam hampir sebulan terkait pelemahan dolar dan investor menunggu keputusan suku bunga The Fed AS pada Rabu besok. Saham perusahaan pertambangan emas juga menguat.

Bullion naik untuk hari keempat, rentang waktu terpanjang dalam sebulan, terkait Indeks Bloomberg Dollar Spot yang melanjutkan penurunannya dari level tertingginya tujuh bulan. Kenaikan terbaru emas memangkas kerugian pada bulan Oktober disaat FBI membuka kembali penyelidikan penggunaan e-mail pribadi Hillary Clinton, yang menambah ketidakpastian di seputar pemilihan presiden AS. Sebuah lonjakan pada dana yang diperdagangkan di bursa dan didukung oleh logam juga membantu mendorong harga.

Emas untuk pengiriman cepat naik 0,7 persen ke $ 1,286.58 per ons pada 10:14 pagi di New York, setelah mencapai $ 1,289.57, tertingginya sejak 4 Oktober, menurut Bloomberg generic pricing. Logam ini turun 2,9 persen bulan lalu. Di Comex, New York, emas berjangka untuk pengiriman Desember naik 1,2 persen ke $ 1,287.90 per ons.

EQUITYWORLD FUTURES Harga emas di divisi COMEX New York Mercantile Exchange pada perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) naik untuk dua sesi berturut-turut ke level tertinggi dalam lebih dari empat bulan terakhir.

Seperti dikutip dari Xinhua (7/3/2014), kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April naik US$ 11,5 atau 0,86% menjadi US$ 1.351,8 per ounce. Data statisik menunjukkan, angka tersebut merupaka nilai tertinggi untuk kontrak emas paling aktif sejak 28 Oktober 2013.

Para analis pasar mengatakan, para pedagang masih menanti sinyal dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) terkait penarikan dana stimulusnya. Sementara Presiden Bank Sentral New York William Dudley mengatakan, The Fed tak perlu tergesa-gesa menaikkan suku bunga jangka pendeknya mengingat ekonomi AS masih banyak menghadapi gangguan untuk bertahan pulih.

Sementara itu, Equity world Futures Bank Sentral Eropa memutuskan mempertahankan suku bunganya pada Kamis (6/3/2014) waktu setempat. Presiden ECB masih berupaya mengatasi ancaman deflasi yang berpotensi mengurangi kesempatan penarikan dana stimulus dalam waktu dekat. Kondisi tersebut meningkatkan dolar dan menekan nilai tukar dolar AS.

Nilai tukar dolar yang lemah menarik banyak pembeli asing ke pasar emas.

 

Sumber: Bloomberg