PT. EQUITYWORLD FUTURES – Minyak melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2015 pasca Arab Saudi mengisyaratkan siap untuk memangkas produksi lebih dari sebelumnya yang disepakati sementara negara-negara non-OPEC termasuk Rusia berjanji untuk mengurangi memproduksi di tahun depan, sehingga memperkuat komitmen terkoordinasi oleh produsen terbesar di dunia untuk memperketat pasokan.

Minyak berjangka naik sebanyak 5,8% di New York dan 6,6% di London. Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih mengatakan pada hari Sabtu bahwa eksportir terbesar akan “memangkas secara substansial” di bawah target yang disepakati bulan lalu dengan OPEC.

PT. EQUITYWORLD Komentar Al-Falih diikuti kesepakatan dengan negara-negara non-OPEC untuk bergabung dengan kelompok dan memangkas output sebanyak 558.000 barel per hari tahun depan, ini merupakan perjanjian pertama antara rival dalam 15 tahun terakhir.

MInyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari naik sebanyak $ 3,01 ke $ 54,51 per barel di New York Mercantile Exchange, level intraday tertinggi sejak 6 Juli 2015.

Kontrak diperdagangkan pada $ 53,71 di 08:35 pagi Hong Kong. Harga naik 3,5% selama dua sesi sebelumnya ditutup pada level $ 51,50 per barel pada hari Jumat.

OPEC memiliki sejarah panjang kecurangan dalam kuota produksi. Faktanya, Nigeria dan Libya dibebaskan dari kesepakatan karena produksinya telah banyak menurun dengan adanya perang saudara. Untuk itu kesepakatan ini lebih menekan Arab Saudi untuk mengurangi produksi minyak sesuai kesepakatan.

“Perjanjian ini mempererat kerja sama kita untuk jangka panjang,” kata Menteri Energi Saudi, Khalid alk-Falih usai pertemuan yang menurunya sebagai bersejarah tersebut.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan dalam konferensi pers yang sama: “deal hari ini akan mempercepat stabilisasi pasar minyak, mengurangi volatilitas, menarik investasi baru.”

Pekan lalu, OPEC sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari. PT. Equityworld Kesepakatan ini dimotori eksportir besar, Arab Saudi yang menjanjikan untuk memotong sebanyak 486.000 barel per hari. Falih mengatakan Riyadh mungkin memotong lebih dalam, katanya menambahkan pada kesempatan Sabtu kemarin.

Sumber: Bloomberg