Sebuah lukisan palsu bisa berharga puluhan juta. Jika tembus balai lelang seni meroket hingga miliaran rupiah. Padahal ongkos membuat satu karya tidak lebih dari Rp 5 juta. Namun, buat para kolektor tidak jadi masalah asal lukisan terlihat coretan tangan maestro-maestro.

Lukisan-lukisan palsu itu kemudian dijual ke pengepul barang seni sekitar Rp 10-15 juta. Pengepul akan menjual kepada kolektor seharga Rp 25-40 juta. Kalau beruntung bisa lolos masuk balai lelang seni bisa mengeruk fulus selangit.

“Bisa saja karya itu dijual dengan harga satu miliar. Para kolektor tertipu dengan harga mahal sebuah karya seni tak asli,” ujar kolektor lukisan, Syakieb Sungkar, kepada merdeka.com di Jakarta pekan lalu.

Komunitas kolektor lukisan mempunyai beragam jenis dan selera. Tak secara resmi mereka berkumpul. Namun, satu dengan lainnya saling berhubungan dalam memburu karya seni gambar di atas kanvas. Para kolektor, termasuk pelaku seni, juga ikut mempengaruhi perkembangan seni rupa di tanah air.

Dari 1988 ledakan dunia seni rupa sudah mengguncang dan mempengaruhi para pelaku seni. Pada tahun itu, bersamaan dengan dimulainya liberalisasi keuangan di Indonesia, beberapa pemilik modal mulai mengoleksi karya seni rupa Indonesia.

Enam tahun kemudian terjadi hal serupa dengan sebutan masa mooi indie. Meningkatnya minat terhadap seni rupa Indonesia menyebabkan banyak karya seni mulai muncul
dari Eropa. Kebetulan di masa itu warga Belanda pernah tinggal di Indonesia sebelum 1957 sudah uzur atau meninggal sehingga koleksinya dijual.

Memasuki awal milenium kembali terjadi ledakan seni rupa. Pengaruh krisis ekonomi 1997-1998 menjadi kebangkitan para kolektor kalangan profesional. Mereka mulai membeli karya-karya dilepas para pemilik modal pada 1990-an terpaksa melikuidasi aset mereka akibat krisis ekonomi.

Terakhir, 2011-2014, ledakan seni rupa hanya mempengaruhi karya segelintir perupa paling diminati. Hal itu membuat kolektor-kolektor baru semakin terpaku pada nama perupa. Artinya, para kolektor ini hanya berminat membeli karya dari segelintir perupa maestro sudah punya nama dan selalu laku tinggi di pasar.

Hanya karya merekalah mendapat perhatian pasar, sementara perupa lain tidak diperdulikan. “Di tahun ini, para pelukis paling kasihan,” kata kurator Indonesia Amir Sidharta. “Sudah capek-capek melukis tapi tak ada peminat. Kolektor lebih memilih karya maestro tua.”

Menurut Amir, sepertiga dari karya tiap pelukis maestro telah dipalsukan. Dia mencontohkan pelukis Affandi diperkirakan pernah menghasilkan 1.500-2.000 karya, maka sudah ada 500-650 karya Affandi palsu. Lalu jika Sudjojono menghasilkan seribu lukisan, maka sudah ada sekitar 300-350 karya palsu diakui sebagai bikinan Sudjojono.

“Tercemarnya pasar seni rupa kita dengan karya palsu akan membuat orang enggan terus mengoleksi karya seni Indonesia,” ujarnya.