EQUITYWORLD FUTURES –  Ribut-ribut soal pemberian konsesi JICT ke Hutchinson oleh PT Pelindo II terus bergulir.

Terakhir, PT Pelindo II akan mengajukan somasi kepada Bahana Securities yang pernah disewa BUMN kepelabuhanan itu untuk menghitung nilai bisnis perpanjangan konsesi JICT ke Hutchinson.

Langkah tersebut dilakukan Pelindo II karena adanya perbedaan data yang disampaikan Bahana Securities kepada Pelindo II, dengan yang diserahkan kepada Panitia Khusus (Pansus).

Direktur Utama Pelindo II RJ Lino mengungkapkan pihaknya sebelumnya telah meminta kajian Bahana Securities sebagai salah satu konsultan guna menghitung prospek bisnis perpanjangan konsesi JICT kepada Hutchinson hingga tahun 2038.

Menurut Lino, dalam kajian sebelumnya, Bahana memaparkan perpanjangan konsesi tidak ada masalah. Pelindo II juga dinilai tidak akan menderita kerugian atas perpanjangan konsesi itu.

“Namun perhitungan itu berbeda ketika tim gabungan antara Bahana Securities dan FRI dimintai perhitungan oleh Pansus. Mereka memaparkan sebaliknya, yakni ada kerugian yang dialami Pelindo II jika konsesi dilanjutkan,” ujarnya Rabu (25/11/2015).

Menurut Lino, laporan Bahana Securities sangat tidak konsisten. Jika mengacu pada laporan tim bersama antara FRI dan Bahana Securities, kerjasama dengan Hutchinson harus dihentikan agar Pelindo II tidak menderita kerugian.

“Kami nggak mungkin bikin termination (penghentian kerjasama). Kami harus hormati kerja sama itu. Kalau kontrak batal dengan Hutchinson, nggak tahu berapa penaltinya,” jelas Lino.

Atas perbedaan penghitungan itu, Lino meminta kepada Bahana Securities agar konsisten. “Sebagai lembaga konsultan keuangan, Bahana Securities harus solid dengan laporannya. Kami akan mengirimkan somasi,” lanjut Lino.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Bahana pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) yang merupakan induk Bahana Securities, Eko Yuliantoro mengungkapkan data yang disampaikan kepada Pelindo II selaku klien dengan yang diberikan kepada Pansus memang berbeda.

Perbedaan itu terjadi karena metode yang dipakai saat penghitungan memang berlainan. Selain itu, dia juga tidak memberikan rekomendasi sama sekali kepada Pansus mengenai prospek perpanjangan konsesi JICT kepada Hutchinson oleh Pelindo II.

“Itu hanya perhitungan ulang dengan data-data yang dilengkapi. Metode perhitungan yang memang tidak sama,” kata Eko.

Menurut Eko, pihaknya juga siap memberikan klarifikasi jika diperlukan untuk menjelaskan perbedaan penghitungan tersebut.

Adapun kutipan salinan data perhitungan perpanjangan konsesi yang dilakukan oleh FRI dan Bahana Securities sebagaimana yang diperoleh Kompas.com adalah sebagai berikut:

Berdasarkan proyeksi tim:

A. Asumsi Historis

Manfaat bagi Pelindo II untuk sisa masa kontrak (2015-2018) adalah 2,99 triliun jika kontrak diperpanjang, tetapi akan kehilangan potensi pendapatan 2019-2038 sebesar Rp 24,7 triliun dikali dengan 49% (saham HPH) jadi Rp 11,85 triliun (Asumsi kurs sebesar Rp 13.600).

B. Proyeksi DB (Deutsche Bank)

Manfaat bagi Pelindo II Rp 36,5 triliun lebih besar jika mengoperasikan sendiri JICT dibandingkan dengan memperpanjang kontrak. Akibat perpanjangan kontrak maka potensi kehilangan penghasilan Pelindo II adalah Rp 36,5 triliun dikali 49% adalah sebesar Rp 17,9 triliun (Asumsi kurs sebesar Rp 13.600).

TIm Gabungan menyatakan bahwa semua data dan keterangan yang diberikan kepada pansus angket Pelindo II (dibawah sumpah), adalah benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan pengetahuan.