EQUITYWORLD FUTURES – Politikus PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka ikut berduka atas meninggalnya penyair Sitor Situmorang di usia yang ke-91 tahun. Sastrawan angkatan 1945 itu mengembuskan napas terakhir di Belanda, Minggu (21/12).

Rieke mengungkapkan, Sitor Situmorang sangat berperan dalam karirnya di dunia sastra Indonesia.

“Indonesia tentu sangat kehilangan salah satu putra terbaik bangsa di bidang sastra ini. Kabar duka ini tidak hanya memukul dunia sastra di tanah air tapi juga para kaum nasionalis yang tentu sudah banyak mengenal beliau sejak zaman kemerdekaan RI dan juga diri saya,” ungkapnya dalam rilis yang diterima merdeka.com, Minggu.

Rieke mengaku mengenal Sitor Situmorang dari seorang sejarawan JJ Rizal saat masih kuliah di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia. Bahkan, dia mendapatkan kursus secara cuma-cuma seminggu sekali di rumah Sitor di Jalan Besuki, Menteng.

“Sitor yang mendorong diri saya menerbitkan ‘Renungan Kloset’. Sitor juga yang memperkenalkan saya dengan Hamzah Fansuri dan Gurindam dua belas,” terangnya.

“Jangan hamburkan kata, bagi penyair kata adalah senjata, jangan kau buat ia tumpul. Tulislah tidak tentang dirimu, jangan menjadi penulis yang egois, tulisanmu harus bermakna bagi manusia lain, bagi perjuangan kemanusiaan. Selamat jalan Pak Sitor. Karya-karyamu akan tetap abadi dan menginspirasi semua anak bangsa,” tutup anggota Komisi IX DPR RI bidang ketenagakerjaan dan kesehatan.

Seperti diberitakan sebelumnya, kabar duka datang dari Apeldoorn, Belanda. Sastrawan angkatan 1945 terakhir yang dikenal sangat Soekarnois, Sitor Situmorang, tutup usia diusianya ke 91 tahun. Ucapan bela sungkawa pun mengalir deras, diantaranya di situs jejaring sosial atas wafatnya sastrawan kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923 itu.

Seperti ucapan belasungkawa yang ditulis cerpenis Agus Noor lewat akun Twitternya @Agus_Noor yang menulis “Bagiku Sitor tak pernah mati. Ia adalah segala hal yang dikekalkan #pagi.”

Ucapan belasungkawa juga datang dari putri mendiang Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Alissa Wahid. Lewat akun Twitternya @AlissaWahid dia menulis, “Selamat jalan Sitor Situmorang.. jejakmu abadi pada pecinta kedalaman kata-kata di ini negeri.”

Sitor dilahirkan dengan nama Raja Usu. Dia menempuh pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta Mulo di Tarutung kemudian AMS di Batavia (kini Jakarta). Pada 1950-1952, Sitor sempat berkelana ke Amsterdam dan Paris.

Selanjutnya, ia memperdalam ilmu sinematografi di Universitas California pada tahun 1956-1957. Pakar sastra Indonesia asal Belanda, Andries Hans Teeuw, menyebutkan bahwa Sitor Situmorang menjadi penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya Chairil Anwar.

Sitor menjadi semakin terlibat dalam ideologi perjuangan pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an, sebagai pengagum Presiden Soekarno, benar-benar melepaskan kesetiaanya kepada Angkatan 45 khususnya Chairil Anwar, pada masa ini.

Ia pernah menetap di Singapura (1943), Amsterdam (1950-1951), Paris (1951-1952), dan pernah mengajar bahasa Indonesia di Universitas Leiden, Belanda (1982-1990) dan bermukim di Islamabad, Pakistan (1991) dan Paris.

Karya-karyanya Sitor di antaranya

Surat Kertas Hijau, kumpulan puisi (1954)
Jalan Mutiara, drama (1954)
Dalam Sajak, kumpulan puisi (1955)
Wajah Tak Bernama, kumpulan puisi (1956)
Rapar Anak Jalang (1955)
Zaman Baru, kumpulan puisi (1962)
Pangeran, kumpulan cerpen (1963)
Sastra Revolusioner, kumpulan esai (1965)
Dinding Waktu, kumpulan puisi (1976)
Sitor Situmorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba, otobiografi (1981)
Danau Toba, kumpulan cerpen (1981)
Angin Danau, kumpulan puisi (1982)
Bunga di Atas Batu, kumpulan puisi (1989)
Toba na Sae (1993) dan Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom, sejarah lokal (1993).
Rindu Kelana, kumpulan puisi (1994)