EQUITYWORLD FUTURES – PT Investa Saran Mandiri kali ini mencermati saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai saham rekomendasi.

Investa menyarankan posisi “buy” untuk emiten bank dengan kode saham BBRI ini, di harga wajar Rp 12.400 dalam 12 bulan.

Dalam paparan risetnya, Investa menilai BRI sebagai bank dengan net profit terbesar di Indonesia, mendapatkan laba bersih sebesar Rp 6,14 triliun pada Maret 2016. Laba bersih tersebut naik 0,6 persen atau Rp 35 miliar dibandingkan Maret tahun 2015.

Sedangkan pendapatan BBRI pada kuartal 1 tahun 2016 yang berakhir pada bulan Maret 2016 mencapai Rp 25,75 triliun atau naik 11,46 persen dibandingkan dengan kuartal 1 tahun 2015.

Pendapatan bunga menyumbang lebih dari 80 persen dari total pendapatan. Pendapatan bunga tercatat mengalami kenaikan dari sebesar Rp 20,08 triliun di kuartal I tahun 2015 menjadi Rp 21,84 triliun di kuartal I tahun 2016.

Sedangkan dari pendapatan non bunga yang mencapai Rp 3,91 triliun atau naik sebesar 29,55 persen.

Bank BRI juga telah menjadi bank dengan jaringan terbesar dan terbanyak di Indonesia, bisa dilihat dengan Bank BRI yang telah mempunyai jumlah kantor kas atau kantor cabang serta ATM terbanyak di Indonesia.

Sehingga pendapatan fee based income (FBI) BRI ke depannya masih akan meningkat terus.

BRI juga di 2016 ini akan memiliki satelit sendiri. Biaya penyewaan satelit oleh BRI selama 8 tahun akan menutupi biaya pembelian satelit BRISat. Sedangkan masa usia pakai BRISat bisa mencapai sekitar 15 tahun.

Sehingga ke depannya BRI akan mencapai efisiensi biaya penyewaan satelit untuk ke depannya. BRI juga menjadi satu satunya bank di dunia yang memiliki satelit sendiri.

Rincian Kinerja

Pendapatan dan laba bersih Bank Rakyat Indonesia untuk 3 tahun ke depan diperkirakan akan terus meningkat.

Peningkatannya diprediksi rata rata sebesar 10 persen, dengan pendapatan pada 2016 dan 2017 berturut-turut adalah Rp 76 triliun dan Rp 85 triliun.

EPS dari Bank Rakyat Indonesia juga diperkirakan akan meningkat rata rata sebesar 8 persen menjadi Rp 1.054 rupiah pada tahun 2016.

ROE, NPL, dan NIM diperkirakan akan berubah namun tidak berubah jauh dari yang didapatkan sebelumnya.

Bank BRI selalu mengalami peningkatan pendapatan selama 5 tahun terakhir. Kenaikan ini dapat diperkirakan karena adanya inovasi yang dilakukan oleh BRI yaitu mobile banking dan modernisasi seluruh perlengkapan di kantor cabang BRI.

Bank BRI juga telah menjadi bank dengan jaringan kantor cabang dan ATM terbanyak di Indonesia. Laba bersih BBRI naik menjadi 25 triliun rupiah pada tahun 2015 dari tahun sebelumnya yang sebesar 24 triliun rupiah.

BRI juga selalu berusaha menjaga Non-performing Loans (NPL) nya untuk tetap stabil di bawah dua persen. Ini merupakan hal yang sangat baik karena umumnya standar perbankan berada pada area bahaya adalah 3 persen dan BRI sangat aman pada hal ini walaupun Bank BRI memiliki banyak kredit ritel di pedesaan.

ROE yang dimiliki BRI juga cukup tinggi karena berada di atas 20 persen selama 5 tahun terakhir. Pada tahun 2015, ROE yang dimiliki oleh perusahaan perbankan ini adalah 24,1 persen. Ke depannya ROE BRI akan mengalami tekanan jika pertumbuhan ekonomi indonesia di bawah 5 persen.

“Untuk kalangan perbankan di dunia, mendapatkan Net Interest Margin atau NIM sebesar 3 persen merupakan hal yang sangat sulit untuk diraih. Namun, hal tersebut tidak terjadi di bank-bank yang berada di Indonesia,” tulis Investa.

Contohnya BRI yang memiliki NIM sebesar 8,13 persen pada tahun 2015. Sehingga kelangsungan bisnis perbankan BRI akan selalu dalam kondisi yang terbaik. Perbankan di Jepang bahkan NIM nya hanya bisa di bawah 0,5 persen.

LDR bank BRI juga terjaga di area 80 persen lebih, hal ini bisa diartikan BRI tidak menyimpan banyak uang para nasabah tabungan dan depositonya di bank, tetapi sebagian besar duitnya diputar ke dengan memberikan kredit. Hal ini juga menjadi salah satu yang membuat profit BRI bisa selalu naik.

BRI juga akan meluncurkan satelit pada 8 Juni 2016. Dengan adanya satelit tersebut, BRI dapat memberikan layanan perbankan lebih maksimal ke pelosok desa. BRI merupakan bank pertama di dunia yang memiliki satelit. Dimana sekitar 75 persen portofolio kredit BRI untuk pedesaan.

Valuasi

Pada proyeksi riset Investa kali ini proyeksi EPS growth BBRI hanya 10 persen. Pertumbuhan rata rata EPS selama 5 tahun terakhir sekitar 17 persen.

Investa memprediksi PE tertinggi BBRI tahun ini ada di level 14. Dengan harga wajar saham BBRI sebesar Rp 12.400 rupiah dan harga saat ini adalah 10.450 rupiah. Maka terdapat selisih keuntungan sebesar 16,03 persen.

“Namun, kami lebih menyarankan untuk membeli saham BBRI pada harga dibawah Rp 10.400 karena dapat mengambil keuntungan lebih besar yaitu diatas 17 persen,” papar riset Investa ke Kompas.com.

Tetapi, BBRI dan saham perbankan lainnya mempunyai ancaman penurunan profit yaitu dari rencana akan dibatasinya NIM oleh pemerintah.

“Jika aturan pembatasan NIM itu jadi dilakukan, maka profit saham perbankan di Indonesia akan mengalami penurunan mengikuti penurunan suku bunga kredit oleh pemerintah,” pungkas Investa.