EQUITYWORLD FUTURES – Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino tak menampik pernah ada “gesekan” kecil dengan Ignasius Jonan.

Perbedaan pendapat itu terjadi saat Jonan masih menjabat sebagai Dirut PT KAI. Muasalnya, karena ada perbedaan pandangan mengenai akses kereta api di Tanjung Priok.

“Tapi saat ini saya dengan Pak Jonan sudah tak ada masalah. Hubungan saya dengan beliau juga lancar dan koordinasi pun bisa berjalan dengan mudah,” ujarnya Selasa petang (20/10/2015).

Lino mengungkapkan awal perbedaan pendapat itu didasarkan karena Pelindo II kurang begitu yakin bahwa angkutan kereta api mampu untuk mengangkut peti kemas dari dan ke pelabuhan secara efisien.

Dasarnya, untuk mencapai pelabuhan Tanjung Priok, kereta angkutan barang tak bisa leluasa beroperasi karena harus berbagi dengan kereta angkutan penumpang.

Selanjutnya, barang yang diangkut oleh kereta tak bisa bergerak door to door dan harus dipindahkan beberapa kali sebelum akhirnya sampai ke tujuan.

“Karena itu, jika kereta api bisa mengurangi 3 persen saja barang di pelabuhan Tanjung Priok, itu sudah sangat istimewa,” kata Lino.

Dia mencontohkan di beberapa negara yang jaringan kereta api barangnya mencapai ratusan kilometer, tak bisa meraup pangsa pasar angkutan kontainer lebih dari 10 persen.

Seperti di Jepang, angkutan kereta api hanya mampu meraih porsi angkutan kontainer kurang dari 4 persen. Demikian juga di pelabuhan Rotterdam, kereta api hanya bisa meraup pangsa angkutan kurang dari 10 persen.

Untuk itu, Lino telah menyiapkan rencana untuk mengurangi kepadatan jalan dari truk-truk kontainer.

“Kami akan memanfaatkan kanal untuk bisa membawa peti kemas dari Cikarang ke pelabuhan secara lebih efisien. Kanalnya sudah ada dan tinggal mengeruk untuk pendalaman,” jelasnya.

Kanal sepanjang 40 kilometer tersebut sebenarnya telah ada sejak tahun 70-an, namun selama itu tidak pernah dimanfaatkan.

Jika sudah siap, nantinya peti kemas yang berasal dari terminal Cikarang akan diangkut mengunakan kapal tongkang.

Untuk keperluan ini, Pelindo II menyiapkan dana sekitar Rp 3 triliun untuk pengerukan dan mempersiapkan berbagai sarana yang diperlukan.