EQUITYWORLD FUTURES – “Wah, kenapa ada patung Pangeran Jayakarta nih?,” ucap pemerhati sejarah kolonial Lilie Suratminto pada suatu sore di Museum Sejarah Jakarta.

Anak muridnya bertanya. “Memang itu benar wajah Pangeran Jayakarta Pak?”

“Belum tentu, makanya saya nggak setuju ada patung di museum ini. Dari mana referensi buat patung ini?” sahutnya.

Kekecewaan dosen Universitas Indonesia ini cukup beralasan. Apalagi Lilie menjadi salah satu ahli diundang memberi masukan pada proyek renovasi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Bagi dia, museum adalah tempat menampilkan semua data atau barang sudah tidak diragukan kebenarannya.

“Masak, Pangeran Jayakarta itu dibikin sembarangan. Jangan sampai orang terbayang begitu rupanya,” katanya saat ditemui merdeka.com Selasa pekan lalu di kampusnya. “Kebanyakan orang membuat patung tapi tidak berdasarkan data arsip dokumentasi.”

Patung Pangeran Jayakarta dari pematung yang sama juga nongol di Museum Bahari, Jakarta Utara. Saat dimintai penjelasan soal muasal pembuatan patung di sana, UPT Kepala Museum Bahari Dahlan mengakui kelemahan itu.

Dia bilang mesti ada penelitian dan seminar agar pematung atau pemesannya mengetahui peninggalan sejarah dari pahlawan dimaksud. “Apalagi untuk museum harus mutakhir, nggak boleh mengada-ada,” ujarnya.

Fenomena rupa palsu pahlawan ini mau tidak mau dan suka tidak suka terjadi di Indonesia. Sebab minimnya dokumentasi para pahlawan di era penjajahan Belanda. Sejarawan Indonesia Abdurrahman membenarkan perlu ada karya ilmiah disepakati sebelum menggambar atau memahat wajah pahlawan.

Dilema ini dialami pematung Muhammad Nurdihan, Karyanya berupa patung Pangeran Jayakarta dipajang di Museum Sejarah Jakarta dan Museum Bahari. Dia melalui proses panjang untuk mendapatkan rupa Pangeran Jayakarta paling mirip.

“Saya didampingi sejarawan mewawancarai orang punya trah Pangeran Jayakarta. Dari situ tahu karakteristik, kapal, dan bendera yang dibawa Fatahillah,” tuturnya. Selebihnya dia mengambil gambaran dari buku sejarah dan acuan dari museum.

Tidak ada hitungan dan batasan bagaimana kreasi dan imajinasi Nurdihan masuk dalam pembuatan patung. Yang jelas, satu-satunya acuan adalah logika dan insting para pematung.

“Semua relatif, kita kan punya perkiraan seberapa tinggi orang Asia itu,” katanya. “Seberapa besar kepalanya, matanya, ya seperti orang Asia saja.”

Keberadaan patung atau lukisan pahlawan selalu berhasil menarik perhatian pengunjung sehingga pihak museum tetap mempertahankan keberadaannya, Namun persoalan ini coba diakali pihak museum agar pengunjung tidak menyimpulkan rupa Pangeran Jayakarta apa adanya.

“Orang museum penting menginformasikan itu bukan wajah sebenarnya,” ucap UPT Kepala Museum Bahari Dahlan.