EQUITYWORLD FUTURES – Setelah kemarin melaju, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pada perdagangan Rabu (16/12/2015) diperkirakan dibayangi pelemahan.

Data Bloomberg pukul 08.30 WIB menunjukkan, mata uang garuda berada di posisi Rp 14.047 per dollar AS, turun tipis dibandingkan penutupan kemarin pada 14.046.

Pada Selasa (15/12/2015) kemarin, rupiah di pasar spot menguat 0,54 persen ke level Rp 14.046 per dollar AS. Sementara kurs tengah Bank Indonesia rupiah tercatat naik 0,08 persen di posisi Rp 14.065 per dollar AS.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual mengatakan, penguatan rupiah hanya merupakan faktor teknikal setelah sebelumnya melemah cukup dalam.

David melihat, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh tiga isu. Yakni pelemahan ekonomi China, pertemuan FOMC, dan turunnya harga komoditas. Ketiganya membawa sentimen negatif bagi mata uang garuda.

Padahal, sebenarnya ada beberapa sentimen positif bagi rupiah. Diantaranya kerja sama currency swap antara Indonesia dan Australia.

“Kerja sama ini menambah confidence bagi rupiah,” ujar David seperti dikutip Kontan.

Lalu, meski mengalami defisit neraca perdagangan, impor bahan baku menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi dalam negeri terus menggeliat.

Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan fokus pada hasil pertemuan FOMC dan data inflasi AS yang dirilis Selasa malam (15/12/2015). David memperkirakan rupiah akan kembali melemah pada hari ini.