EQUITYWORLD FUTURES – Nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan lepas sari tekanan pelemahan pada perdagangan awal pekan ini, Selasa (18/8/2015).

Pada awal perdagangan di pasar spot, data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda berada di posis Rp 13.828 per dollar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya pada 13.821,8.

Indeks dollar AS kembali naik di tengah penantian pasar atas BI Rate atau suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Angka Empire Manufacturing AS yang turun dalam berhasil mendorong turunnya imbal hasil US Treasury 10 tahun. Namun turunnya harga minyak masih mempertahankan penguatan indeks dollar AS.

Penguatan dollar AS juga masih terasa hingga kemarin sore di pasar Asia walaupun yuan yang kembali stabil sudah mengurangi sentimen negatif. Rupiah masih tertekan hingga penutupan Akhir pekan lalu. Ketika pasar keuangan Indonesia tutup kemarin, mayoritas mata uang di Asia pun masih melemah terhadap dollar AS.

Walaupun isu devaluasi yuan sudah mereda, menurut Riset Samuel Sekuritas Indonesia, harga minyak dan komoditas lain yang turun berpeluang terus menekan rupiah.

Angka defisit neraca transaksi berjalan yang melebar serta keseluruhan neraca pembayaran yang defisit bisa menambah tekanan terhadap rupiah. Ditunggu respon Bank Indonesia di Rapat Dewan Gubernur BI hari ini.

“Walaupun pertumbuhan melambat serta neraca perdagangan surplus secara konsisten, BI rate sepertinya masih akan tetap, melihat volatilitas rupiah yang tinggi. Rupiah berpeluang kembali tertekan hari ini,” tulisnya.