EQUITYWORLD FUTURES – The International Air Transportation Association (IATA) atau Asosiasi Perusahaan Penerbangan Dunia memiliki prediksinya sendiri akan nasib industri penerbangan di Indonesia tahun ini.

Menurut IATA, perkembangan Industri penerbangan nasional akan “sedikit” terpengaruh karena melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar. “Melemahnya mata uang tentu saja mempengaruhi perjalanan wisata di Indonesia menggunakan pesawat,” ujar Director General dan CEO IATA Tony Tyler di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Meski akan sedikit “terguncang”, namun IATA justru menilai pelemahan nilai tukar Rupiah itu bisa menguntungkan Indonesia. Pasalnya, kata dia, turis asing akan melihat Indonesia sebagai destinasi yang murah.

Sementara itu, dalam jangka panjang, IATA melihat industri penerbangan Indonesia akan lebih besar. Bahkan, sekitar 15 tahun lagi, Indonesia akan menjadi negara peringkat keenam dalam jumlah penumpang angkutan udara.

“Saat ini Indonesia merupakan pasar terbesar penumpang ke-12 di dunia. dan kami berharap dalam 15 tahun untuk menjadi yang terbesar ke-6,” kata dia.

Di kawasan Asia-Pasifik, IATA memperkirakan kapasitas bandara akan berkembang 8,5 persen. Sementara untuk jumlah penumpang akan berkembang 7,7 persen.