EQUITYWORLD FUTURES – Nilai tukar rupiah kembali diuji kekuatannya pada awal pekan ini, Senin (15/6/2015). Di tengah volatilitas indeks dollar AS, rupiah juga menunggu data neraca perdagangan dan proyeksi atas hasil pertemuan The Federal Reserve tengah pekan ini.

Di pasar spot pagi ini, mata uang Garuda pukul 08.45 WIB turun tipis Rp 13.337 per dollar AS dibanding penutupan Jumat lalu pada 13.335.

Data terbaru di Amerika Serikat (AS) membaik di akhir pekan lalu. Namun secara umum perkembangan data-data ekonomi AS belum terlalu meyakinkan menjelang FOMC meeting yang dimulai esok hingga Kamis dini hari mendatang. Volatilitas diperkirakan akan tinggi menjelang FOMC meeting.

Menurut Riset Samuel Sekuritas Indonesia, penguatan indeks dollar AS justru terbantu kekhawatiran yang memuncak di Zona Euro terhadap masa depan Yunani; euro melemah sementara imbal hasil Bund Jerman mulai turun. Sampai detik ini Yunani dan Troika belum menyepakati proposal pinjaman baru yang dananya sangat dibutuhkan Yunani untuk memenuhi kewajibannya yang harus dilunasi pada akhir Juni.

Rupiah melemah pada perdagangan Jumat lalu walaupun IHSG dan SUN berhasil menguat. Terlihat dollar AS yang menguat terhadap mayoritas mata uang di Asia. Kekhawatiran diperkirakan meningkat menjelang pengumuman FOMC meeting Kamis dini hari.

Walaupun semakin sedikit investor yang percaya the Fed akan menaikkan suku bunga minggu ini, kejutan bisa saja terjadi. Volatilitas yang tinggi dengan kecenderungan pelemahan pada rupiah serta mata uang di negara berkembang akan terlihat hingga ada kepastian mengenai suku bunga AS. Pagi ini neraca perdagangan diperkirakan masih surplus walaupun menipis.