EQUITYWORLD FUTURES – Saat tenggelam di perairan Selat Bali beberapa waktu lalu, kapal Rafelia 2 diketahui mengangkut 33 kendaraan dan 70 penumpang.

Sebanyak 16 dumptruck di antaranya membawa limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari pembakaran batu bara yang akan dibawa ke Jawa Timur.

“Untuk itu, salah satu rekomendasi kepada perusahaan adalah mengangkat bangkai kapal karena ada limbah serta bahan bakar kapal. Selain itu letak bangkai kapal dekat dengan kabel listrik bawah laut yang menghubungkan Jawa dan Bali,” tutur Kasubkom Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT Kapten Aldrin Dalimunte saat memaparkan hasil temuan KNKT, Selasa (10/5/2016), di kantor Pemda Banyuwangi.

Aldrin menjelaskan, 33 kendaraan yang dibawa terdiri dari dua buah tronton dengan berat masing-masing 25 ton, dump truck sebanyak 16 buah dengan rata-rata 40 ton, satu truk besar dengan berat 25 ton, 4 truk sedang dengan berat masing-masing 10 ton, empat pick-up dengan berat masing-masing 1,3 ton, enam sepeda motor dengan berat masing masing 0,120 ton dan 70 penumpang dengan total perkiraan 4,34 ton.

“Total berat 765,26 ton dan KNKT menemukan tidak adanya informasi berat kendaraan dan muatan secara akurat yang dimiliki oleh awak kapal,” ujar Aldrin.

Dia juga menambahkan, untuk pemuatan kapal Rafelia 2 didasarkan pada pemenuhan ruang muat bukan kemampuan kapal mengangkut muatan.

Kapal Rafelia 2 sendiri dibuat di Jepang tahun 1993 dan beroperasi di Jepang sampai tahun 2009 lalu pindah ke Filipina mulai dari 2009 hingga 2011. Pada tahun 2012- 2014 melayani penyeberangan Padang Bai Bali.- Lembar Lombok dan tahun 2015 melayani rute Surabaya – Ende hingga berakhir di Selat Bali.

“Selama di Jepang dan Filipina, kapal rafelia 2 hanya digunakan untuk mengangkut kendaraan pribadi,” ungkap Aldrin.