EQUITYWORLD FUTURES – Indonesia ditengarai menyimpan potensi besar bagi perkembangan ekonomi dan pembangunan dunia. Salah satu perusahaan bidang material bangunan global asal Perancis, Saint Gobain, melihat potensi itu dan terus menancapkan kukunya di tanah air.

“Demografinya masif dan urbanisasinya yang cepat. Selain itu, kelas menengahnya juga terus meningkat diiringi dengan aturan bangunan ramah lingkungan membuat kami cocok dengan Indonesia,” ujar General Asia-Pacific Saint Gobain, Javier Gimeno, saat berpidato dalam perayaan ulang tahun Saint Gobain ke-350 di Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Tak hanya itu. Menurut Javier, kuatnya industri otomotif di Indonesia dan banyaknya jenis pasar serta kompetitor membuat Saint Gobain yakin Indonesia berpotensi besar untuk maju. Meski begitu, pembangunan bermacam infrastruktur yang kini tengah digenjot pemerintahan Joko Widodo tidak terlalu berdampak bagi perkembangan Saint Gobain di Indonesia.

“Dampaknya sedikit, karena pembangunan infrastruktur yang ada sekarang adalah infrastruktur berat yang tidak menjadi concern kami. Pembangunan MRT contohnya, tidak memberikan dampak tinggi terhadap kami. Lain dengan program sejuta rumah yang memberikan efek tinggi bagi kami,” jelas Javier.

Hal itu sesuai dengan produk Saint Gobain di Indonesia, yang memang bukan bahan-bahan untuk pembangunan infrastruktur semacam MRT dan sebagainya. Produk mereka di Indonesia adalah perekat ubin dan sistem lapisan dinding eksternal yang didistribusikan Weber.

Ada juga Gyproc untuk gipsum, Norton untuk bahan abrasif serta beberapa merek plastik kinerja tinggi, dan Adfors untuk bahan penguat.

Atas dasar itulah perusahaan yang telah hadir di Indonesia sejak 1992 itu kini memiliki beberapa pabrik di Indonesia. Di Jakarta ada lima pabrik, yakni Abrasives, Weber, PPL, dan Gipsum. Sementara itu, ada dua pabrik sedang dalam pembangunan, yaitu Mortar dan Sekurit, yang ditargetkan dapat selesai pada 2016 dan 2017.

Saint Gobain juga memiliki pabrik Weber dan Abrasives di Surabaya. Perusahaan yang sudah berdiri sejak 1665 itu juga berencana membangun satu pabrik di wilayah Sumatera dengan nilai investasi sebesar 6-7 juta Euro atau sekitar Rp 103 miliar.