EQUITYWORLD FUTURES – Nutrisi pada makanan yang disantap oleh anak ternyata dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya di kemudian hari. Tak hanya untuk melakukan aktivitas, nutrisi makanan juga berpengaruh pada kecerdesan intelektual sekaligus emosional seorang anak.

Dalam acara BebeExplora yang digelar di restoran Kembang Goela, Jakarta (2/9/2015), Dr. dr. Saptawati Bardosono, Msc. menjelaskan bahwa asupan nutrisi bagi anak sangat penting, bahkan dimulai saat masih berada dalam janin.

“Nutrisi sejak dalam kandungan harus diperhatikan. Hebatnya sebuah janin itu dapat beradaptasi dengan sang ibu. Jika nutrisi yang diasup kurang, janin akan mengecilkan semua organ vitalnya seperti jantung, paru-paru dan ginjal,” jelas dokter Saptawati. Ia juga menambahkan bahwa selama ini, janin yang kekurangan nutrisi biasa lahir di bawah berat 2.500 gram.

Usai melahirkan, nutrisi anak masih harus terus diperhatikan secara ketat. “Enam bulan pertama ASI sudah cukup karena kandungan nutrisi di dalamnya sudah sangat lengkap,” tukas dokter Saptawati. Namun ia menyayangkan bahwa rata-rata orangtua hanya memperhatikan nutrisi anak dengan ketat hanya sampai rata-rata pada usia enam bulan. Setelah itu anak dianggap dapat mencoba asupan makanan lain selain ASI.

Dokter Saptawati menganjurkan para orangtua untuk tetap memperhatikan nutrisi makanan anak secara ketat sampai mereka mencapai pubertas.”Kalau anak perempuan boleh dikontrol sampai usia 13 tahun, sedangkan laki-laki baiknya hingga mencapai usia 17 tahun,” tambahnya lagi.

Justru jika orangtua masih terus memperhatikan nutrisi anak yang sudah memasuki masa pubertas dengan ketat, dokter Saptawati mengatakan bahwa hal tersebut dapat berimbas buruk pada anak. “Nanti anaknya bisa tumbuh berkembang ke samping, bukan ke atas,” kelakar dokter Saptawati.