EQUITYWORLD FUTURES – Seni wayang semakin berkurang peminat. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik anak muda agar menyukai wayang. Hal ini menjadi salah satu tujuan Festival Wayang Indonesia (FWI) 2015. “Seni wayang sudah mengalami berbagai penyesuaian agar bisa diterima masyarakat sekarang,” kata Ketua Umum Sekretariat Nasional Perwayangan Indonesia (Sena Wangi), Suparmin Sunjoyo dalam Konferensi Pers FWI, di Cafe Batavia, Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (12/9/2015).

Menurut Suparmin, sejauh ini penyesuaian yang dilakukan berupa waktu. Selama ini pergelaran wayang menghabiskan waktu minimal 8 jam. Namun sekarang sudah lebih diringkas dan dipadatkan. “Satu pergelaran bisa hanya 2 jam. Bahkan ada yang 10 menit atau 5 menit,” tuturnya.

Selain waktu, penggunaan bahasa juga menyesuaikan. Banyak pergelaran wayang kini menggunakan bahasa Indonesia. Ini dilakukan agar wayang dapat menjangkau semua daerah. Di luar dari bahasa, tema-tema yang diangkat juga lebih dinamis dan dekat dengan masyarakat.

Wayang sekarang tak lagi melulu membahas kisah-kisah Pandawa atau perang Baratayuda. Pergelaran wayang sekarang banyak yang mengangkat tema yang dekat dengan masyarakat. “Misalnya kisah kepahlawanan Soekarno ya,” jelas Suparmin. Untuk instrumen musik juga mengalami banyak penyesuaian. Sinden misalnya sudah bisa menyanyikan lagu-lagu populer. Alat musiknya juga sudah bisa menggunakan drum dan gitar.

KOMPAS.COM/JONATHAN ADRIAN Beberapa pengunjung mengatre berfoto di booth Festival Wayang Indonesia (FWI) di Taman Fatahillah, Sabtu (12/9/2015).

Meski demikian, Suparmin menegaskan ada hal-hal yang tak bisa diubah seenaknya dalam pewayangan. Saat ini, sudah ada dua aliran dalam wayang, tradisional dan kontemporer. “Yang tradisional masih berpegang pada tradisi. Sedang kontemporer ini banyak guyon, ini kan terkadang merusak aturan ya,” terang Suparmin.

Bagaimanapun wayang adalah sarana mendidik, sehingga dalam setiap pergelaran harus ada unsur pendidikan atau nilai moral yang dapat dipelajari. Selain itu wayang juga selalu mengangkat hal-hal baik atau sisi heroik karakternya. Kisah wayang selalu mengajarkan kebaikan seorang tokoh.

Hal serupa diutarakan Ananto Kusuma, Staf Ahli dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam pidato pembukaan FWI. Menurutnya selama ini wayang masih diperlakukan sebagai tontonan semata. Padahal wayang bisa dimasukkan sebagai tuntunan.