EQUITYWORLD FUTURES – Salah satu pihak keluarga dari mendiang korban kekerasan 1965 mengaku tahu betul jumlah warga Kendal yang hilang dari peristiwa berdarah tersebut. Menurut KRT Dwi Hasto Citronegoro, keponakan dari korban Sri Widodo, jumlah warga yang hilang dan hingga tidak lagi kembali berjumlah 250 orang.

“Saya pernah hitung jumlah korban yang ada di Kendal, jumlahnya 250 orang,” kata penganut kepercayaan Sapta Darma ini di Semarang, Senin (1/6/2015).

Dwi Hasto sendiri hadir untuk memberi penghormatan pada pamannya itu, meski namanya belum tercantum dalam daftar nama yang telah teridentifikasi. Selain itu, ayahnya yang bernama Wagiono, juga sempat dibawa dan ditahan. Namun, Wagiono kini telah dilepas hingga meninggal dunia tahun 1977 silam.

Saat para korban dibawa, Dwi Hasto masih berusia 8 tahun. Pamannya, orang tuanya hingga tetangganya ditahan di Pabrik Padi Plantaran di wilayah Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Namun, warga yang tidak kembali disebutnya tidak saja dimakamkan di Dukuh Plumbon, tapi tersebar di berbagai pemakaman di wilayah Kendal.

“Korban di Kendal itu 250 orang. Pemakamannya tersebar di Darupono, Bandengan, Sekucing, Siluwuk Sawangan (Kabupaten Batang) dan Plumbon ini,” tutur pria yang berprofesi sebagai dalang tersebut.

Dia sendiri tahu pamannya dikuburkan di Plumbon sejak lama, yakni ketika mengantarkan peneliti asal Swedia yang saat itu melakukan riset tentang pembunuhan 1965. Sejak saat itu, dia rajin berziarah, meski secara sembunyi-sembunyi.

Karena peristiwa sudah berlalu, dia berharap agar pemerintah tidak mengulang kesalahan yang sama di masa mendatang. Saat ini, baik keluarga maupun pemerintah diminta untuk islah dan saling memaafkan.

“Kami mohon agar tidak ada diskriminasi lagi. Ini negara Pancasila, jangan sampai merusak semangat Pancasila,” ucapnya.

Sejauh ini, di pemakaman Dukuh Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, diyakini ada 24 orang jenazah yang dikubur. Delapan orang diantaranya telah berhasil diidentifikasi. Para aktivis hak asasi manusia saat ini terus berusaha merampungkan nama-nama tersisa yang belum tercatat.