Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kondisi perekonomian nasional semakin sehat, selepas 69 tahun merdeka. Salah satu indikatornya, makin sedikit rasio utang luar negeri dan hibah buat mendanai anggaran pembangunan.

Pengurangan utang ini penting, menurut SBY, lantaran masyarakat sempat trauma dengan tingginya rasio pinjaman asing hingga 85 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada puncak krisis ekonomi 1998.

“Kini utang negara berada dalam aman, karena berkaitan dengan rasa percaya diri, dan harga diri bangsa,” ujarnya dalam Pidato Kenegaraan dalam rangka HUT Republik Indonesia ke-69 di DPR RI, Jakarta, Jumat (15/8).

Menurut SBY, kini rasio utang tinggal 23 persen terhadap PDB. Pinjaman kepada Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah dilunasi empat tahun lebih awal dari jadwal.

“Ketika saya menerima managing director IMF, justru Indonesia yg banyak memberi masukan bagaimana mereformasi IMF. Indonesia tidak lagi menjadi pasien IMF,” kata presiden.

Di luar itu, hibah pembangunan dari negara maju kini bukan dana pembiayaan utama. Rasionya cuma 0,7 persen dari total belanja APBN.

Indonesia, menurut SBY, bukan berusaha anti hibah. Melainkan hanya menerima bantuan dari negara sahabat sepanjang dilandasi itikad baik.

Anggaran pembangunan sebesar Rp 1.842 triliun tahun ini mayoritas dari usaha sendiri. Cadangan devisa pun kini mencapai USD 110,5 miliar.

Selain itu, presiden juga menyitir data pendapatan per kapita masyarakat yang meningkat 3 kali lipat 15 tahun terakhir, menjadi Rp 36,6 juta per kapita pada 2013.

Fakta lain bahwa Indonesia telah masuk G20, menandakan negara ini duduk sejajar dengan negara ekonomi besar lainnya.

“Dengan itu, kita telah mencapai kemandirian ekonomi,